Asian English Olympics 2015




singing la la la.. Que Sera :)


 sebenernya ini pengalaman yang late post banget muehehehe tapi yaaa bagaimana dengan segala macam kesibukan dan kepadatan dan ketidakmampuan untuk menulis entri blog ketika deadline paper tinggal lima jam lagi di masa masa semester dua saya yang luar biasa luar biasa ini ๐Ÿ˜„
dan sebenernya lagi beberapa gambar dari AEO ini sudah saya post sebelumnya tapi marilah kita ceritakan yang lebih detail muehe siapa tau ada reader yang mau berangkat ke AEO juga tahun depan so yaaa tidak ada salahnya menceritakan ini ๐Ÿ˜
jadi februari lalu, pertengahan februari, saya dan beberapa orang kolega (pake kolega biar kerenan dikit muehe) harus mewakili kampus di ajang yang bernama Asian English Olympics 2015 di Bina Nusantara University
okay, jadi apakah AEO itu?
so, Asian English Olympics adalah olimpiade bahasa inggris seasia *yakaleee*
okay, okay, sabar ๐Ÿ˜
jadi didalamnya berkumpul maha-mahasiswa dari berbagai negara di Asia dan di beberapa cabang perlombaan juga ada siswa tingkat menengah.
di AEO tahun ini ada beberapa Field atau cabang yang di perlombakan.
yang pertama, dan yang paling panas serta menarik perhatian, adalah Debate.
terus yang kedua Speech, cabang dengan peserta paling banyak
lalu ada News Casting, Speeling Bee, Scrabble, Short Story Writing dan Telling Story (semoga tidak ada yang ketinggalan, seingat saya segini sih hehe)
nah, kali ini saya tidak berdebat, ngga, karena yang turun di cabang ini adalah dewa nya debat *tengtengtengtereeng* Mami Bimo dan Kak Dedi serta rockie paling potensial sepanjang tahun 2014 *tengtengteeeeeng* Widya
jadi, saya turun di cabang Speech, bersama rekan saya, Rizal atau yang akrab disapa Saanun
terus di News Casting ada saudara Terong BB, Sandi Lagusta Lapuerta Azules Ipirelian (iya, kalau nulis nama Sandi harus begitu) dan Kak Chika alias Kak Ari di Scrabble dan Mong alias Fhira Monghilong di Speeling Bee
okay, dan karena berangkat bareng minister English Carreer kita, mas Bimo, jadiiii siap siap saja saya menderita lahir batin dan apalah apalah itu karena salah satu dari kebutuhan tersier mas Bimo adalah membully anak gadis yang masih polos (which is me)
okay. lets gooo ๐Ÿš€๐Ÿš€๐Ÿš€
kita berangkat dari Jogja naik kereta di stasiun Tugu, dan saya, thanks God, duduk disebelah Sandi jadi bisa cuss selfie sepanjang jalan pakai hapenya Sandi yang masya-Allah-luar-biasa-magical itu muehehe
dan sepanjang jalan (kereta berangkat jam 8 malam teng) kita mencoba, sangat mencoba, untuk behave di dalam kereta yah walaupun agak sedikit kebocoran karena kita selfie selfie ngga jelas dan ribut rebutan cemilan tapi seengganya mulut tanpa saringan khas debater kita masih rapat terjaga (apalagi ada kak Dedi, orang paling alim di jagat debate UMY)


daaaan kita sampai di stasiun Senen (or Gambir? forgot) sekitar subuh gitu, kita cuss subuh dan lalu cuss cari taksi yang bisa nganterin kita ke Binus Square, apartemennya mahasiswa Binus dan beberapa ekspatriat Jekardah.
sebelumnya, kita kenapa bisa nyangsang di Binus Square while kebanyakan peserta dalam negeri nginepnya di Asrama Mahasiswa (?) dan Binus Square memang dipake sama peserta dari negara lain?
bukan. bukan karena kampus kita kebanyakan uwit. bukan juga karena kita sok gaya dan ingin mempertahankan keunggulan dan keislamian kampus, tapi simply karena kita kehabisan kamar di dormitory dan akhirnya mau ngga mau terpaksa menginap di Binus Square selama kurang lebih seminggu. saya tidak mau membayangkan berapa yang dihabiskan kampus untuk membayar penginapan kita muehehehe.
nah, waktu itu pas banget musim musim banjir di JKT dan ngga ada satupun taksi yang mau nganterin kita ๐Ÿ˜ญ
akhirnya kita pakai taksi gelap (gelap, karena mobilnya warna hitam ๐Ÿ˜✌)
dan... you believe this? satu mobil itu diisi delapan orang plus dengan koper koper kita yang segede gaban. dan itu rasanya ....
well ...
lupakan.
okay, akhirnya sampai di Binus Square ketika hari masih buta. gelap banget dan itu bikin BS jadi kelihatan cantik banget dengan lampu lampu berkelap kelipnya itu

at that time we were like .... "oh my" when first arrived in BS hahaha mendes emang yaaa



dan karena pagi jam 7 kita sudah harus naik ke shuttle bus dan daftar ulang di kampus Binus jadi kita ngga bisa check ini dan harus menitipkan koper koper kita yang gedenya ngga jelas itu ke panitia di deket front office, lalu numpang mandi di kamar mandi samping kolam renang.
lalu cuss buat daftar ulang ke Binus.

di lobby, belum mandi, muka kucel dan kelaperan. sudah mirip banget lah sama refugee


sampai di Binus, well, susah banget ngebedain mana yang peserta asing dan mana yang lokal. karena yang lokal pun wajah wajah chinese dan hindi semua. hmmm...
abis daftar ulang kita akhirnya mencar ke chamber masing masing buat ngambil undian urutan tampil dan abis dzuhur dapet coaching clinic.
well, coaching clinic cabang perlombaan saya adalah juri utama yaitu mr. ......
lupa ๐Ÿ˜
dari Toastmaster Singapore
dan orangnya sudah udzur sekali udzur sekali.
yaaa saya coaching clinic sampai sehabis ashar lalu dilanjutkan lagi lalu cuss pulang naik shuttle bus dari kampus ke BS.
nah, di coaching clinic speech kita para peserta speech dapat banyak banget ilmu berguna yang hmmmmm omooooo im so grateful today is so wonderful banget ๐Ÿ˜
mulai dari cara menarik perhatian audience, cara membuat speech yang baik, cara berdiri yang baik, cara membuat script yang menarik sampai ke impromptu speech.
okay, dan akhirnya kita semua berdelapan kembali ke BS.
dan karena mas Bimo selaku ketua suku dan ketua perjalanan kita punya prinsip "no having fun before breaking" jadi kita ngga ada yang boleh seneng seneng selama malam tiba, tapi harus prepare buat perlombaan esok harinya.
malam itu kita makan nasi goreng yang dibeli di pinggir jalan lalu dibungkus dan dimakan sambil duduk di lantai karpet berkeliling di sudut dekat lift di lantai empat BS. nista sekali. nista. tapi bahagia ♥
terus kita disuruh masuk kamar dan mengistirahatkan otak buat besok hari sama mas Bimo, Sandi sekamar sama Saanun di kamar ujung lorong sementara mas Bimo, kak Dedi sama kak Ari di kamar yang berhadapan dengan kamar saya, Widya dan Mong.
tapi walaupun mas Bimo bilang kita harus istirahat yaa tetep aja saya, Widya dan Mong malah berselfie ria di kamar sok sokan pajamas party muehehe
daaan akhirnya tidur. lalu bangun pagi pagi buta sekali dan hal yang pertama dilihat adalah pemandangan JKT yang tenang, kalem dan malu-malu dengan city lightsnya yang berwarna warni karena jendela kamar kami sebesar ruangan dan gordennya lupa ngga ditutup ๐ŸŒ†
okay, dan pagi itu menjadi awal pertempuran kami berdelapan.
di Speech, kami harus memakai formal attire dan saya juga sudah siap siap minjem wedges ke sahabat saya di Jogja, Wilma
tapi begitu berangkat pagi itu, mas Bimo, Widya, Mong, kak Dedi dan kak Ari pakai pakaian yang kasual sementara Sandi pakai semi-formal dan saya serta Saanun pakai formal (apalagi Saanun udah kaya mau prewed ๐Ÿ™ˆ)

dan walaupun saya pakai formal attire tapi tetep bawahnya pake Converse Fuschia kesayangan yang tentu saja ngga ada matching-matchingnya sama pakaian saya, but wedges aman di dalam ransel jadi in case saya salah kostum total yaaa masih bisa ganti alas kaki ๐Ÿ˜
sampai didalam chambeeeeer, yah tentu saja jiper sendiri karena peserta yang lain paka sepatu mengilap. okay. saya mengalah.
lalu digantilah Converse kebangsaan itu dengan wedges warna nude hasil pinjem dari Wilma ๐Ÿ‘ 
kalau saya punya kantung Doraemon dan bisa pinjem Teropong Masa Depan, saya ngga akan ganti sepatu saya itu.
okay, lalu dimulailah Preliminary Round.
di Speech, Prelimnya terdiri dari dua babak; prepared speech dan impromptu based on matter yang dikasih sama panitia. dan di prepared speech saya dapat urutan akhir sementara di impromptu dapet urutan awal, alhamdulillah.
cuss akhirnya harus nunggu giliran tampil di waiting room yang dinginnya ngga kira kira (jadi, cara Binus menunjukkan bahwa kampusnya mahal adalah dengan menggunakan pendingin ruangan bersuhu sangat rendah ๐Ÿ˜)

wefie para peserta Speech niiih


ketika participant mencapai nomor ke 60 saya disuruh memasuki preparing room. hm.. mulai deg degan ngga jelas.
dikasih waktu 5 menit buat prepare, akhirnya saya ngalor ngidul kemana kemana di dalam preparing room tersebut.
"number 62 please come to performance room"
yay! diz iz it ~
naik ke panggung kayu dan smiiiiiiile ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
ada tiga juri di hadapan saya, dan juri utama mr. ... dari singapore tadi sementara juri pendamping dari JKT dan kota lain saya lupa.
menit menit awal, okay i did it.
saya benar benar menguasai panggung, my kind of thing ๐Ÿ˜
lalu ketika menit akhir, closing, saya kembali ke tengah panggung dan menuruni satu anak tangga di depan panggung tepat di depan ketiga para juri dan ....
oh my almighty God.
kaki kanan saya nyelip.
atau kecengklak.
atau hampir-tersandung.
apapun itu namanya, pokoknya wedges itu membuat saya kehilangan keseimbangan dan NYARIS terjatuh dan refleks tangan kanan saya naik untuk menyeimbangkan badan.
dan juri utama dari singapore tadi melihat semua gerakan kikuk ngga jelas itu dan ... dan ... 
dia menahan tawa.
beliau. terkikik. menahan. tawa.
..

....

selesai perform, saya langsung copot wedges pinjaman yang dlsizjakv@#%*% itu dan langsung memasukkan kaki saya dengan nyamannya ke Converse kebangsaan. lalu setelah itu lari ke lantai lima dimana debaters hall berada.
mas Bimo harus tau. mas Bimo harus tau.
Tuhan ...

sampai di debaters hall yang luas, gelap dan dingin saya langsung mencari mas Bimo.
"MASBIIIIIIIIIIIIIIIIIM !!!!! ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ"
"MASBIIIM TAU NGGAAAAAAAA !!"
lalu meluncurlah segala segalanya didepan wajah masbim yang seperti itu jenisnya ..
dan reaksi dia cuma
"BHAHAK!"
sumpah. masbim jahat banget.
dan setelah itu pas Saanun dateng, saya ceritain ke dia cerita menyedihkan itu, pas kak Ari dateng saya cerita juga, pas Sandi dateng saya cerita juga. tidak ada satupun yang tidak tau cerita menyedihkan itu, dan disitu saya sontak bilang sama masbim.
"mas, kalau gara gara ini aku ngga breaking octo, aku ngga akan pernah pakai segala macam jenis heels lagi. bahkan di nikahan ku sekalipun"

ini niiih foto wedges yang bikin keringet saya mengalir deraaaas, foto ini diambil pas banget selesai dari ruangan dan ganti Converse. phew


hh...
lalu akhirnya setelah prelim terakhir cabang Debate, kita berdelapan pulang ke BS naik shuttle terakhir.
hari kedua.
impromptu speech.
jadi kita harus membuat speech maksimal 7 menit dari materi yang disediakan oleh panitia, dan tentu saja speech nya harus gaya Toastmaster, jadi kita harus banyak masukin example dan inspiring story.
saya tampil ke 6 dan mendapat bahan tentang Death Penalty. yuhuuu ~
(ps. kali ini saya meninggalkan wedges flsisjmlkk€$^%%# itu di kamar apartemen)
dan saya membuat speech saya penuh dengan teori dan cerita, saya bawa Four Freedoms theory dan cerita dari sebuah film korea dengan judul Miracle In Cell Number Seven.
saya tidak undertime dan tidak overtime.
over all, it ran well.
selesai perform saya langsung lari ke debaters hall, oh iya fyi debaters hall itu sebenernya adalah auditorium dan karena debate butuh banyak kursi since pesertanya banyak juga butuh layar besar buat match up jadi dipakailah auditorium itu untuk menjadi debaters hall.


saya langsung cuss ke debaters hall karena malam sebelumnya mas Bimo pesen begitu saya selesai perform harus langsung cuss ke debaters hall buat ngikutin tim kita ke chamber, yaaah jadi penonton yang berdaya guna kalau kata masbim.
jadi, selesai itu saya langsung mengikuti mas Bimo dan Widya debat.
di AEO, sistem yang dipakai adalah British Parliamentary dimana satu tim ada dua orang dan ada empat tim yang bertanding memperebutkan peringkat satu, dua, tiga dan empat. setiap peringkat akan mendapatkan jumlah poin berbeda dan dari beberapa prelim poin tersebut dikumpulkan, enambelas tim dengan poin tertinggi akan masuk ke tahap selanjutnya.
dan menjadi penonton yang berdaya guna buat mas Bimo serta Widya memberikan saya banyak ilmu debat yang kece ๐Ÿ˜
apalagi pas lawan HKT apa gitu lah ya lupa pokoknya universitas dari Hongkong (bukan "dari hongkoooong" tapi emang bener bener dari negara Hongkong sana itu) terus juga dari BIPEDS yang merupakan swing team dari debate club nya binus, terus UGM dan UI (anw yang ketemu sama tim kita kemarin anak FISIP looh duh bang)
dan entah kenapa di setiap chamber suhunya selalu dingin kaya di freezer. entah.
oh iya, fyi hari kedua saat itu adalah hari jumat yang notabene kaum muslim melaksanakan shalat jumat.
sejauh ini peserta yang terlihat islami adalah peserta dari negara tetangga kita, Malaysia.
bahkan di cabang speech pun, ketika semua peserta yang lain tetap menggunakan formal attire tapi peserta speech laki laki dari Malaysia memakai baju koko, masya Allah sekali halalkan adek kaaaaak halalkan adek :'
dan ketika ditanya kenapa dia pakai baju takwa instead of kemeja dan jas dia jawab karena ini hari jumat dan umat muslim harus melaksanakan shalat jumat. aduh kak :'
then waktu istirahat siang di debaters hall dimana para peserta laki laki muslim beranjak ke masjid buat shalat jumat, termasuk mas Bimo, tim dari kampus kami berpapasan dengan tim dari kampus lain di Jogja, mereka masuk kami keluar. cus mas Bimo nanya
"eh, ngga solat jumat?"
dan mereka, para laki laki itu, dengan entengnya menjawab,
"kita kan musafir, Bim"
well...
yang dari Malaysia kayanya ngga kalah musafir-nya deh sama yang dari Jogja itu, tapi yaa entahlah.
its just funny how we act as the biggest moslem country in front of other countries :'
cus. lanjutkan ceritanyaaa
selesai prelim debat terakhir kami semua peserta AEO 2015 dikumpulkan di debaters hall sekalian pengumuman octofinal atau breaking announcement.
kita dikasih banyak resting dari panitia, mulai dari penyanyi solo, pesulap sampai band gitu dan malam itu felt like closing banget karena meriah banget dan kita semua sama sama berdiri dan nyanyiin themesong AEO tahun ini yaitu Que Sera yang liriknya emang ngenak banget sih ..
"at the end of the day, some you win some you don't
but i'm glad that i'm here with some friend that i know"
bagus ya ๐Ÿ˜Š
lalu kemudiaaaaan mulailah saat saat menegangkan.
kami delegasi dari kampus duduk berderet di deretan tengah dan duduk saling mencengkeram tangan masing masing, untuk saling menguatkan (dan tentu saja menghangatkan karena di debaters hall juga dingin ❄)
mulai dari Debate Field.
disini mas Bimo udah santai santai aja like nothing happened, dan Widya sudah keringetan ngga jelas karena tim kita tahun kemarin tembus ke semi (no wonder yang turun para dewa semua, mas Bimo dan kak Asep) jadi Widya tertekan karena menurutnya kalau tahun ini tim debat kita ngga breaking maka itu ada pada kesalahannya, meskipun tentu saja tidak ada yang salah disini.
then satu persatu nama tim yang lolos dipanggil berdasarkan nama kampusnya dan lambang kampusnya langsung muncul di layar depan yang gede banget itu.
kesatu...
kedua...
kelima...
kampus kita tidak disebut sebut, Widya semakin kenceng ngeremes tangan saya, and its a lil bit hurt muehehehe
lalu akhirnyaaaaa .. 
disebutlah nama kampus unggul islami itu dan Widya langsung memeluk saya, well literally kita semua saling pelukan.
lalu, breaking octo Speech Field.
giliran perut saya yang mules.
saya sudah sangaaaat pasrah sekali dan memberikam pandangan lost-puppy ke arah mas Bimo dan Widya.
satu persatu nama peserta disebut dan ditampilkan di layar depan bersama nama negara dan lambang kampusnya.
kedua tangan saya terkunci di tangan Widya dan Mong.
and that was it.
nama saya dan lambang kampus hijau yang selama ini tidak saya sadari keindahannya *lebay*
sontak, semua langsung menyerbu dan memeluk saya sampai saya tenggelam di atas kursi. duh.
dan mas Bimo senyum dengan baiknya, bilang "nah kan, ngga ngaruh kan kejadian kecengklakmu itu"
hahahaha well, rasanya abis itu saya langsung pengen pake heels aja seumur hidup muehehe ๐Ÿ˜‚
dari delegasi kami hanya Debate dan Speech yang breaking, lalu kami pulang ke BS.
besoknya, octo final saya lupa dengan persis bagaimana jalannya, pokoknya saya bikin speech tentang violiting other human right. entah lupaaaa :'
mungkin karena setelah itu saya ngga breaking ke semi hehe
tim debate juga berhenti di semi.
akhirnya malam itu kita pulang ke BS dengan pertempuran yang sudah tak ada lagi untuk dijalani *uhuk* *sok puitis*
daaaaan seperti peraturan yang mas Bimo bilaaaang, akhirnyaaa kita boleh seneng seneng dan since mas Bimo sudah ngidam banget buat makan di PH jadilah kita rencanain buat makan ke PH malam itu but then ternyata yang pengen ke PH cuma saya dan mas Bimo saja, yasudahlah kita berdua jalan ke PH muehehe
dan ngegunjingin banyak hal since kita cuma berduaan aja.
selesai makan kita balik ke BS dan akhirnya main Tepok Nyamuk bareng bareng; saya, mas Bimo, kak Ari, Sandi, Jepo (temennya Widya) sementara Saanun ngerem diri dikamar dan kak Dedi sibuk sama laptopnya dan Widya sama Mong sibuk ngerekam kenistaan kita berlima main Tepok Nyamuk sampe ketawa ngga jelas dan belepotan ramuan yang dibuat dari teh bau popcorn campur bedak bayi yang diolesin ke muka orang yang kalah 



lalu besoknya adalah final day tapi berhubung none of us breaking to final so kita berdelapan malah ngegembel ke mall taman anggrek karena mas Bimo pengen skatingan disana (maklum jogja ngga ada skating ring ๐Ÿ˜)
akhirnya saya, kak Dedi, kak Ari, Sandi dan mas Bimo skatingan dan itu menyebalkan sekali rasanya since naik sepatu roda aja saya ngga bisa apalagi disuruh ice skating :'

kita mah da apa atuh ya, Sandi, akhirnya cuma bisa numpang foto foto aja *ngusap airmata* *lanjut foto*


akhirnya malah cuma ngambil selfie banyak banyak, sambil menghiraukan celotehan mas Bimo di belakang, "awas aja tuh sampe di upload ke instagram pake caption skating, bakal aku comment"
dan saya hanya bisa nyengir.

selesai skatingan lalu cuss ke gramed dan saya jatuh hati sama Fifty Shades of Grey dan ngga ada yang translated adanya yang impor dan mahal banget tapi tetep dibeli juga ๐Ÿ˜…
akhirnya lalu pulang ke BS buat packing dan besok paginya check out lalu ke stasiun senen buat naik kereta kembali ke Jogja.
di kereta dalam perjalanan pulang kita sudah sama sekali ngga mikirin behave lagi, ngga kaya pas perjalanan berangkat.
udah ngga ngerti deh sama kita berdelapan yang mulutnya ngga pake satpam :'
contohnya ketika ada mas mas jalan ngelewatin tempat duduk kita, Widya tiba tiba nyeletuk
"eh sis, itu anak KOMAHI tuh"
saya langsung liat ke depan,
memang ada kakak kakak pake korsa KOMAHI tapi bukan UMYEAH
"U** sis, KOMAHI tetangga"
saya menjawab sekenanya yang langsung disamber sama mas Bimo
"ngga usah kenceng kenceng juga kali, kedengeran"
"biariiiiin"
terus tiba tiba mas Bimo bertatapan dengan saya dan seolah olah saling mengerti apa yang kita pikirkan, mas Bimo bilang
"lagian harus banget naik kereta api pake korsa?"
"bhahahahahak"
tuh kan.
halo, kakak KOMAHI U** kalau anda sedang membaca ini, yang mengatakan hal seperti itu dulu di kereta adalah saya dan mas Bim. maafkan ya ๐Ÿ˜
dan selain itu juga kita ngomongin something inappropriate and adult hahaha since saya lagi baca Fifty Shades of Grey saat itu.
dan itu di kereta.
entahlah kita ini manusia jenis apa.
akhirnya setelah kelelahan tertawa dan bergunjing sampai juga kita di Jogja.
stasiun Tugu, where every "welcome to reality" started.


well, saya memang belum bisa mengharumkan nama kampus tapi saya bersyukur dipertemukan dengan orang orang hebat di AEO yang sudah mengajari saya apa arti kompetisi sesungguhnya :)
thank you, Tribe of Aces, so nice to meet you all !


0 comments