Being a Woman



because a woman is always an angel

 ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sukaaaa sekali baca komik dan novel.
well, meskipun masih lebih suka baca komik.
banyak banget komik kesukaan saya jaman SD waktu itu such as Doraemon, Throbbing Tonight, Candy Candy, Sailor Moon dan tentu sajaaaa Detective Conan 😎
nah, saya dari jaman baru bisa baca sampai akhir belajar di Pare masih setia banget tuh baca Conan, cuma sekarang ketika masalah kawanan jubah hitamnya ditarik ulur terus (cape kak, ditarik ulur terus :' ini hati bukan layangan *eaaa*)
saya mulai berhenti membaca Conan (besides ngga punya cukup waktu juga buat baca komik)
nah, saya inget ketika kelas 6 SD saya baca volume ke 42 (atau 47? atau 49 ya? lupaaaa muehehehe)
pokoknya yang ada bagian Sharon Vineyard tembak-tembakan di dermaga (?) dan pas Ran nyelametin Ai dari tembakan Vermont, waktu itu Sharon mengatakan sesuatu dalam bahasa Inggris yang ngga bisa saya mengerti;

"a secret makes a woman woman"

apa itu kaaaaaak :'
tapi ternyata ada terjemahannya kok, jadi artinya adalaaaaah

"rahasia membuat seorang wanita menjadi wanita"

tetep aja ngga ngerti kaaaaaak :'

well, ternyata kalimat sakral itu bisa saya mengerti 9 tahun kemudian
saat ini.
ketika saya sudah duduk di bangku kuliah.

rahasia membuat seorang wanita menjadi wanita.

belakangan ini saya jadi sedikit agak banyak berpikir (maklum selama liburan jarang mikir, kak)
kenapa harus ada kata The Real Woman? Wanita Sejati?
memang wanita biasa saja tidak cukup sejati untuk disebut sebagai wanita sejati?
apa sih parameter wanita sejati itu?
cantik?
guys, come on, kita tidak membicarakan sesuatu yang bersinggungan dengan lottery of birth disini, siapa sih yang bisa meminta untuk dilahirkan dengan wajah lonjong? siapa yang bisa meminta dilahirkan dengan dagu menggantung?
tidak ada. tidak seorangpun, maka kata cantik manis imut lucu indah harus kita coret dari daftar.
deal.
wanita sejati itu seperti apa?
yang bisa mengerti lelakinya?
oh, come on, ini hanya akan memperpanjang daftar parameter.
'mengerti' yang seperti apa?
atau wanita sejati adalah wanita yang lihai memasak, pandai memantaskan diri, kalem, lembut, anggun, pandai menjaga diri, mau di poligami.
begitu?
lalu wanita yang kuat, yang memakai celana kargo, yang menenteng senjata, yang teguh mandiri, yang memilih untuk menjadi satu-satunya, yang berjalan dengan dagu terangkat di lobby perusahaan internasional, yang kumal dan lusuh di jalanan karena mencari nasi untuk anak-anaknya, bukan wanita sejati?
mereka bukan wanita sejati karena mereka tidak menuruti apa yang diceritakan oleh budayanya selama turun temurun?
mereka bukan wanita sejati karena tidak mau menuruti apa yang laki-laki gariskan untuk mereka?
(okay, di titik ini saya sudah menjadi sangat feminis hehe)
apapun itu bagi saya tidak ada parameter yang salah untuk menggambarkan ke-sejati-an seorang wanita,
bukankah tidak ada yang namanya kebenaran mutlak? karena yang ada hanyalah cara pandang setiap orang, dan cara pandang kebanyakan orang itulah yang akhirnya ditasbihkan menjadi kebenaran.
lagipula wanita yang paling tidak sejati pun adalah wanita paling sejati yang mungkin bisa kita temui.

ketika saya mendengar kata-kata wanita maka satu hal yang sudah pasti akan melesat di pikiran saya adalah "pain"
yup, kesakitan.
tidak peduli seberapa banyak wanita yang saya pandang di jalan menuju ke pasar hari ini, yang saya lihat hanyalah rasa sakit, sekalipun mereka semua tersenyum dan tertawa.

wanita adalah makhluk penipu nomor satu di dunia.
mereka bisa tersenyum ketika hatinya sedang terbelah.
mereka bisa tertawa ketika hatinya sedang tersayat.
mereka tidak akan menangis di depan orang yang mereka sayangi, mereka tidak akan menangis jika mereka tahu bahwa tangisannya hanya akan membuat orang-orang yang mereka sayangi menangis.
ya, menahan tangis, sebuah kualitas yang belum, sama sekali belum bisa saya miliki.

saya memikirkan mama.
dan jutaan hal yang telah menimpanya.
dan betapa ia tidak pernah menangis, tidak di depan saya.
sepelik apapun masalahnya, bahkan ketika airmata saya sudah membanjir, mama tidak pernah menangis.
saya tahu alasannya kini, karena kalau mama sampai menangis berarti sudah tidak ada lagi orang yang cukup tegar untuk melewati badai itu.
dan saya jadi takut.
saya takut tidak akan bisa sekuat itu menahan tangis di depan anak-anak saya nanti.
saya takut tidak akan bisa setegar karang di hadapan orang-orang yang saya sayangi .

why does, being a woman, make you full of pain?

setiap kali saya melihat seorang wanita, dimanapun dan seperti apapun keadaannya 
entah wanita yang memakai daster dan sedang menyuapi anaknya, atau wanita bersetelan rapih yang menenteng koran pagi atau wanita berseragam yang wajahnya sekuat batu,
ketika melihat mereka semua saya melihat rasa sakit.
saya melihat rasa sakit yang ditanggung oleh wanita berdaster, rasa sakit tidak bisa memberikan kebutuhan terbaik untuk anaknya, rasa sakit harus digertak oleh suaminya setiap penghujung bulan, rasa sakit atas rendahnya pendidikan yang membuat ia kini hanya bisa berpangku tangan.
saya melihat rasa sakit pada wanita bersetelan rapih, rasa sakit dibenci oleh ibu pasangannya karena lebih memilih bekerja, rasa sakit karena penghasilannya lebih tinggi daripada suaminya, rasa sakit karena suaminya sering bersama wanita lain ketika ia rapat ke luar kota.
saya melihat rasa sakit pada wanita berseragam, rasa sakit karena harus meninggalkan keluarganya untuk mengurusi hiruk pikuk jalanan, rasa sakit karena anaknya marah sang ibu tidak pernah ada di rumah saat liburan, rasa sakit karena kesempatannya untuk menjadi ibu yang bahagia harus terlukai oleh impiannya sendiri.

saya merasakan rasa sakit pada setiap hela nafas wanita, pada setiap ringan langkah kakinya, pada setiap tolehan leher mungilnya, pada setiap pendar lelah matanya.

karena itu, ironis ketika sesama wanita bertikai
sesama wanita menyakiti satu sama lain
kita harusnya bersatu, run the world.
why do we hurt each other?
dont you know we hurt already?

saya teringat pada kata-kata yang diucapkan oleh Nana, seorang tokoh pada novel luar biasa indah karya Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Sun bahwa


"learn this now and learn this well, my daughter: like a compass needle that points north, a man's accusing finger always finds a woman"


begitukah?
atas apa yang telah kami, para wanita, berikan pada alam ini?
begitukah yang kami dapat?
oh, tapi tenang saja, cetus Lelaki, karena kalian akan mendapatkan limpahan kebahagiaan di Surga nanti.

baiklah.
kami tunggu karena kami percaya.
bukankah itu juga salah satu sifat permanen yang ditanamkan oleh Tuhan kepada seorang Wanita?
an ability to Believe on the very first place.

0 comments