Sometimes, Life Is As Good As A Quote



okay, so this is long weekend.
well, but for me it is not-so-long weekend
jadi hari rabu sebelum libur berturut-turut yang seharusnya menyenangkan ini saya malah harus melakukan kerja ekstra

dari pagi jam 7 sudah harus masuk kelas bahasa inggris dan melanjutkan presentasi tentang chicken right (no, it’s not some new developed right or law, it’s just an ordinary right, designed for chicken. yeah, i don’t know what’s going on inside my lecturer’s head) yang saaaaangat membosankan dan mengarah kepada debat-debat yang tidak berakhir. urgh.

dan setelah itu kelas mas Idham dimana presentasi kelompok mulai but thank God kelompok saya masih harus presentasi minggu depan so that doesn’t really matter.
what matters is what’s coming after mas Idham’s class.

yup, audisi buat AUAP Speech 2016

see? jadi untuk speech ini kita diminta untuk menyiapkan speech dengan tema diversity dalam waktu kurang dari 48 jam.

okay

daaaan sebelum semakin jauh saya bercerita tentang adrenalin dan kedodolan saya di audisi ini saya mau menceritakan sekilas kisah audisi AUAP tahun lalu.
tahun lalu saya, Widya, Rafy, kak Zazan, kak Ari dan kak Khairul duduk dengan tegangnya di kursi IRO (International Relations Office) untuk memberikan speech tentang “Role of Umy in Asean Community”

saya dan teman-teman juga beberapa tim penilai dari IRO (ada mas Idham loooh wkwk) waktu itu sama-sama tidak tau seperti apa jenis speech yang dilombakan di AUAP, apakah academical speech seperti yang biasa digunakan oleh ALSA atau gaya Toastmaster seperti yang digunakan di AEO
jadi pada akhirnya kami hanya diminta memberikan yang terbaik. and i thought i did.

saya bahkan mewawancarai salah seorang asisten dosen buat mencari data-data tentang umy secara institusional dan memang sih saat speech saya cenderung menggunakan gaya Toastmaster.

well, tentang Toastmaster bagi yang belum pernah denger bisa search di youtube, ada banyak contoh-contoh speech Toastmaster.

where leaders are :"

saya mengenal Toastmaster ketika mengambil kelas public speakimg diDaffodil-Pare, di Toastmaster kita menyampaikan speech untuk menginspirasi dan memotivasi (iya, kek Mario Teguh gitu) dan to be honest saya saaaaangat suka dengan Toastmaster dan menurut saya ngga ada hal yang lebih keren daripada mampu menggugah pikiran manusia selain hanya dnegan kata-lata, and Toastmaster did it.

jadi, jangan salahkan saya kalau saya mencintai Toastmaster

dan, akhirnya saya menyampaikan speech saya dengan gaya Toastmaster.

i did my excellence.

dan memang sih speech Toastmaster itu emang ngga matterfull karena dibuat untuk memotivasi orang dan menginspirasi pendengarnya dan di kalangan akademis di kampus saya, Toastmaster sangat sangat sangat tidak populer, bahkan salah satu senior saya di debat pernah berkata bahwa Toastmaster itu suma “omongan kosong penuh dengan bunga-bunga”. yep, bullshit.

yaaaah... ini bukan masalah saya ngga tau matter atau gimana sih, kalau saya pengen ngelakuin speech yang matterful, well i will do it on debate tapi kalau kita berbicara mengenai speech yang bener-bener public speaking maka cuma ada satu dalam pikiran saya; Toastmaster.

dan waktu itu semua peserta audisi yang lain udah pada bilang, “satu kursi buat Flory” “berangkat kok Flo, berangkat” and yea, i am hella prepared for my speech tapi ternyata saya dan mereka salah karena akhirnya yang terpillih mewakili kampus bukan saya dan saya baik-baik saja dengan keputusan tersebut.

sekarang, 2016, audisi untuk AUAP ada lagi dengan peserta audisi dua kali lebih banyak dan dua kali lebih berbahaya daripada tahun sebelumnya, dan semuanya hampir saya kenal karena mereka teman saya di debat atau senior saya di Komun. haha.

okay dan malam sebelum audisi saya galau abis.

galau.

abis.

saya berulangkali ngechat Rafy (our best ten AUAP last year. hail Rafy!) dan nyusahin dia banget dengan kekhawatiran-kekhawatira saya mengenai audisi kali ini

i mean, i have already did my best last year but i didn’t pass

i know all things about gesture and blocking and movement but i didn’t pass

jadi saya mencoba mencaritau ke Rafy speaker apa yang sebenernya mereka cari di AUAP
dan Rafy menjawab,

“i still don’t know the criteria, it was not really clear but i suggest you to be yourself and make yourself comfortable. do what you love. then adjust it to what they demand”.


okay

jadi pada akhirnya i stick to something i love so much. Toastmaster.
saya mulai melakukan research dan mencari analogi analogi yang tepat untuk menggambarkan diversity.

dan lalu hari audisipun datang.

semua participants mengulang-ulang materi-materi yang akan mereka sampaikan saat speech. mereka mengucapkan kata-kata yang matterful banget like educational background, conflict caused by diversity dan religion diversity sementara saya malah akan membicarakan perbedaan warna pada matahari terbit dan matahari terbenam.


okay.

dan lalu giliran sayapun tiba, ada tiga penilai di dalam ruangan; mbak Atina (fyi mbak Atina ini dulu juga anak divisi Bahasa dan Budaya looh kewren kan muehehe), pak Yordan dan pak Tony.
mereka mendengarkan speech saya dan saya rasa saya ngga overtime karena ngga dihentikan speechnya hehe

lalu mulailah sesi tanya jawab

well, to be honest, saya ngga taua harus menggambarkan sesi tanya jawab saya dengan apa, karena really it turned to be so..... chaotic.

ya, kita malah ketawa-tawa karena matter yang.... ngga urgent sama sekali.

Pak Tony bilang, “you draw diversity as a beauty while others darw it as a beast”

dan sejauh itu hanya mbak Atina yang menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan matter, tentang how we should treat the diversity victim dan saya rasa jawaban saya sama sekali ngga memuaskan mbak atina L

sisanya? saya dapet pertanyaan yang .....

gitulah


“what is your activity in recent days?

“what have you given to komahi?

“why are you so busy?

“what is your favourite colour?

“what colour you don’t like?

“do you have a boyfriend?

“why don’t you have a boyfriend?




ya, i know


entah harus seneng atau terharu kan atau malah miris dapet pertanyaan macem gini heuheuheu
dan ada satu pertanyan yang bener-bener membekas di hati saya,

“what will you be when you are grown up?


dan jawaban saya asshjkl syekali, here:


“well, as an international relations student, when someone ask me what i will be of course i will tell them i want to be a diplomat (alis para penilai naik ketika saya mengucapkan kalimat ini) but i think really what i want to do in this world is inspire people, that is why i deliver such speech. that is why i write blog, i draw and else. i want to inspire people. it gives me a pleasure to be a little sparks for their changes.

“what do you write in your blog?

“well, just my days. how i feel, what i think. eerything comes up in my days and minds

“do you know how much visitors in your blog?

saya tersenyum ngga jelas
yakali pak apalah blog saya, ada orang yang disasarin sama gugel kesini aja sudah alhamdulillah :”

“the visitor of my blog isn’t really my concern, it doesn’t really matter people read my blog or not, or whether it is inspiring them or not, what i know it i will keep writing. no matter what

dan.. believe me, senyum pak Yordan ketika mendengar jawaban saya tersebut sangat sangat menghangatkan hati, senyum yang membuat usaha pagi buta saya menyusun speech jadi sebanding harganya

dan senyum yang sudah membuat saya menyadari sesuatu.

selama ini saya gelisah akan kesukaan saya yang mendalam terhadap Toastmaster tanpa ada satu orangpun yang memahami kesukaaan tersebut, tanpa ada platform yang bisa membuat saya mengembangkan kemampuan saya di Toastmaster tersebut karena terbatasya kesempatan dan fasilitas bagi saya. apakah ketertarikan saya ini akan berakhir sia-sia?

dan senyum di wajah pak Yordan telah membuat saya sadar bahwa melakukan apa yang kamu cintai, tanpa peduli apa yang orang katakan, adalah kebahagiaan besar yang bisa kamu rasakan di dunia.

ya, blog ini, Toastmaster, nyaris semua hal yang saya lakukan adalah hal-hal yang bisa memberikan inspirasi bagi orang-orang dan siapa yang membutuhkan tepuk tangan kalau kita bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain?

saya bahagia bisa memberikan warna yang berbeda, walau mungkin sangat sedikit dan sangat kecil, terhadap kehidupan orang-orang yang tidak dan yang telah saya temui.

dan itu membuat saya bahagia


lalu, kenapa masih meragu?



i am happy with myself, sometimes

0 comments