A Theory of Thrones



Tulisan ini saya buat di masa kuliah untuk buletin digital HI UMY.

Di tulisan ini saya mengkaji teori-teori HI dari salah satu bentuk budaya pop modern yaitu film. Lebih lengkapnya the most pirated movie series of all time yang booming banget dan telah ditonton lebih dari
120 juta kali di semua platform, yaitu Game of Thrones. Phew! Kebayang kan dahsyatnya series ini. Selain banyak diminati karena adegan dewasa dan perangnya, Game of Thrones memiliki intrik politik dan perebutan kekuasaan yang menarik. Sebuah channel khusus film di YouTube, Screen Junkies, bahkan mengkategorikan Game of Thrones sebagai sebuah tayangan sejarah (hanya saja dengan naga dan penyihir lol). Intinya Game of Thrones seru abis. Weits, tapi sebagai anak HI, tentu saja kita ngga
bisa dong nonton sebuah film keren tanpa menganalisis film tersebut menggunakan kacamata HI. So, inilah 3 teori HI yang mewarnai Game of Thrones

1. Teori Pilihan Rasional
Teori Pilihan Rasional merupakan tindakan rasional dari individu atau aktor untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan tujuan tertentu dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau tujuan. Negara sebagai  aktor aktor yang rasional berusaha untuk memilih tiap pilihan alternatif untuk memaksimalkan benefit dan meminimalkan cost yang diterima. Salah satu contoh adanya pilihan rasional yaitu ketika Tyrion Lannister menghadapi pemberontakan the Sons of the Harpy di Meeren. Dalam menghadapi pemberontakan yang didanai oleh para masters di Yunkai dan Astapor tersebut ada tiga pilihan bagi
pemerintah yaitu tetap membasmi pemberontakan yang datang tanpa henti dan menimbulkan banyak korban sipil, menyerang masters di Yunkai dan Astapor yang mendanai pemberotak, atau melakukan negosiasi kepentingan dengan para masters. Pilihan yang pertama segera dicoret oleh Tyrion Lannister karena tidak mungkin untuk tetap memerangi pemberontak, akan ada terlalu banyak korban sipil dan tentara kerajaan. Sementara untuk melakukan penyerangan kepada para masters yang mendanai pemberontak juga dicoret dikarenakan adanya kemungkinan serangan balasan yang akhirnya akan merugikan kerajaan sendiri. Akhirnya dipilihlah pilihan yang ketiga yaitu menegosiasikan posisi masing- masing aktor. Para Masters di Yunkai dan Astapor akan menghentikan suplai kepada pemberontak. Sebagai gantinya, alih-alih menghapuskan perbudakan dalam waktu singkat, kerajaan akan memberikan waktu 7 tahun bagi para masters untuk memerdekakan budak-budaknya. Pilihan ini diambil sebagai pilihan yang paling rasional karena sedikit menelan korban dan memberikan kedamaian yang berkelanjutan.

2. Feminisme
Feminisme, secara garis besar, memandang hubungan internasional sebagai interaksi yang berpola patriarki dan didominasi oleh pengaturan yang lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. 2Tidak adanya Ratu dalam sejarah kepemimpinan Westeros membuktikan teori ini. Meskipun tentu saja dengan naik tahtanya Cersei Lannister setelah kematian putra terakhirnya, Tommen Baratheon, serta kepemimpinan Daenerys Targaryen mulai mengabaikan kecenderungan ini. Ditambah dengan upaya pemberontakan Yara Greyjoy untuk mengambilalih the Salt Throne dan kemungkinan Sansa Stark menjadi the Queen in the North semakin mewarnai geliat feminis di dunia penuh kekejaman dan kematian ala Game of Thrones.

3. Dilema Keamanan
Dilema keamanan adalah suatu situasi dimana upaya peningkatan pertahanan oleh suatu pihak dalam rangka meningkatkan keamanannya justru mengancam keamanan negara/pihak lain. Dengan demikian, dilema keamanan merupakan suatu situasi zero-sum karena peningkatan suatu keamanan pihak lain mengakibatkan penurunan rasa aman pihak lain. Jon Snow dan Sansa Stark merebut kembali Winterfell dari Ramsay Bolton untuk mendapatkan keamanan bagi diri mereka. Karena selama Bolton menguasai Winterfell, para Stark tidak akan bisa hidup damai. Ketika Jon dan Sansa berhasil merebut kembali Winterfell, pasukan-pasukan lain di Utara menjadi pendukung Jon Snow. Peningkatan keamanan yang dimiliki oleh Jon dan Sansa ini akan segera didengar oleh Queen Cersei di Kingslanding dan akan dianggap sebagai ancaman serius yang dapat menyebabkan Iron Throne jatuh ketangan para Stark.

Nah, itulah beberapa teori yang bisa kita kaji dari acara nonton cantik Game of Thrones kali ini. Serial Game of Thrones yang akan kembali tayang pada season 7 di bulan Juni 2017 ini memang telah menjadi fenomena tersendiri. Sebenarnya masih ada banyak sekali teori-teori HI yang ada di dalam kisah perebutan Iron Throne.

Referensi
1 Stephen M. Waltz. Rigor or Rigor Mortiz? Rational Choice and Security Studies. 2009
2 Enloe, Cynthia. Bananas, Beaches, and Bases. 1990
3 Perwita, Anak Agung Banyu. Pengantar Kajian Strategis. 2013

0 comments