Al-Qarawiyyin, Universitas Pertama di Dunia: Menyangkal Dominasi Barat dan Pria


Universitas, sebagai jenjang pendidikan tertinggi, bukanlah sekedar institusi. Universitas selama ratusan tahun telah menjadi ibu dari semua kemajuan peradaban umat manusia. Dari rahimnya, nama-nama besar pengubah zaman terlahir dan abadi tertulis dalam sejarah. Pentingnya peran universitas menjadikannya sebagai salah satu institusi yang paling berpengaruh dalam masyarakat. Begitu banyak penemuan-penemuan ‘pertama’ yang lahir dari kelas-kelas di universitas. Lalu, dimana letak universitas pertama di dunia? Bukan Oxford, Harvard, maupun Al-Azhar. Universitas pertama di dunia, secara mengejutkan, berasal dari sebuah masjid yang dibangun oleh seorang perempuan.

Pendidikan Tinggi dalam Mata Sejarah: Budha, Kristen, dan Islam

Sejak permulaan peradaban manusia, pengetahuan merupakan sesuatu yang diperjuangkan sebagai salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia dan pendidikan adalah kesatuan yang tidak terpisahkan. Sejak dalam kandungan, belajar dan pengolahan informasi merupakan proses yang terjadi secara alami. Saking alaminya proses ini, tidak dapat dipastikan kapan pendidikan dalam sejarah manusia dimulai. Setidaknya sejak zaman Aksial proses pendidikan dan produksi pengetahuan mendapatkan bentuk kelembagaan. Salah satu contoh paling awal dari lembaga pendidikan tinggi berasal dari wilayah Pakistan modern. Sekitar 30 kilometer barat laut Islamabad merupakan pusat pembelajaran Buddhis yang pernah berkembang — Taxila (dibaca Taksasila). Beberapa penulis mengklaim bahwa sistem pendidikan tinggi ada di Taxila setidaknya sejak abad ke-8 SM. Joseph Needham menyatakan bahwa “Ketika orang- orang Aleksander Agung datang ke Taxila di India pada abad ke-4 SM, mereka menemukan sebuah universitas di sana yang tidak pernah terlihat di Yunani.” Bentuk lembaga Taxila masih menjadi perdebatan. Apakah Taxila pada masa itu telah menjadi universitas sebagaimana universitas modern atau memiliki bentuk kelembagaan yang lain. Ada beberapa kesamaan antara Taxila dengan universitas modern saat ini yaitu beragamnya ilmu yang diajarkan. Ilmu-ilmu ini diajarkan di sebuah vihara mencakup filsafat Buddhis, kedokteran, hukum, dan ilmu militer.


Lembaga pembelajaran lain yang lebih tinggi di wilayah anak benua India adalah Nalanda yang terkenal di Bihar. Didirikan sekitar abad ke lima atau keenam, ia mengembangkan jaringan dengan biara-biara Buddha lainnya: Vikramashila, Jaggadala, Somapura dan Odantapura. Bersama-sama mereka berfungsi serupa dengan konsorsium universitas modern, memfasilitasi pertukaran ulama, pengetahuan, dan juga murid. Bersamaan dengan filosofi Budha tradisional, berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, logika dan tata bahasa diajarkan di sana. Dalam sejarah Yunani Kuno, pendidikan tinggi terkait dengan sejarah Yunani Kuno itu sendiri. Akademi, misalnya, ditutup dan dibuka kembali beberapa kali. Selama Perang Mithridatic Pertama setelah pengepungan panjang Athena, Sulla benar-benar menghapus Akademi dan Lyceum. Sejak saat itu perguruan tinggi ditutup dan dibuka berulangkali selama periode Antiquity sampai akhirnya ditutup atas perintah Kaisar Justinian I di 529. Justinianus menutup perguruan tinggi atas dasar kekhawatiran pada ajaran Pagan. Namun kematian lembaga klasik ini justru menandakan permulaan era baru. Penyebaran agama Kristen menuntut pendeta terpelajar untuk melayani berbagai kebutuhan gereja. Di bawah kondisi-kondisi ini, biara-biara dan katedral-katedral terbesar menjalankan fungsi pendidikan secara luas. Lembaga ini kemudian disebut sebagai sekolah monastik dan katedral. Sekolah yang didirikan oleh pelayan publik Roma Flavius ​​Magnus Cassiodorus pada tahun 537 di Vivarium. Cassiodorus mengembangkan kurikulum khusus studi, yang disebut Institutiones yang melibatkan teks-teks agama dan sekuler. Selama abad berikutnya, sekolah-sekolah monastik dan katedral didirikan di banyak kota abad pertengahan: Canterbury (597), Rochester (604), York (627), Beverley (700), Muenster (797), Osnabruck (804), Roskilde (980), dll. Admonitio Generalis dari Charlemagne pada tahun 789 memutuskan setiap biara mendirikan sekolah. Karena kebijakan ini, setiap kota besar memiliki sekolah monastik atau katedral. Salah satu sekolah ini dibentuk di sekitar katedral Notre Dame di Paris yang kemudian menjadi salah satu universitas pertama di Eropa.

Lembaga pendidikan tinggi dan produksi pengetahuan sering kali berasal dari rumah-rumah ibadah. Taxila dan sekolah monastik hanyalah dua dari sekian banyak contoh di seluruh dunia. Lembaga-lembaga semacam itu menjalankan berbagai fungsi. Mereka mengembangkan filsafat agama, melegitimasi dan menyebarkan keyakinan agama. Namun, terlepas dari fakta bahwa sejarah agama terkait dengan sejarah produksi pengetahuan, ada juga kepentingan sosial lainnya yang mendorong pengembangan pembelajaran yang lebih tinggi. Pada kebudayaan Islam, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Ayat pertama yang turun bagi umat Islam adalah seruan untuk membaca dan menulis dimana seruan ini adalah interpretasi sebagai seruan untuk belajar. Oleh karena itu tidak heran jika sejarah pendidikan tinggi dalam Islam begitu kaya hingga tidak mungkin rasanya menceritakan sejarah pendidikan tinggi tanpa memberikan tempat tersendiri bagi perkembangan pendidikan tinggi dalam kebudayaan Islam.

Meskipun demikian lembaga pendidikan tinggi di Timur Tengah memiliki sejarah yang mendahului sejarah Islam. Akademi Gundishapur (juga disebut sebagai Jundishapur), didirikan pada akhir zaman Kuno oleh dinasti Sassanid, adalah contoh yang sangat penting. Tanggal berdirinya yayasan akademi tidak jelas. Namun, diketahui bahwa ketika Sekolah Edessa pertama kali dibersihkan dan kemudian ditutup oleh Kaisar Zeno pada tahun 489 M, banyak dari para ulamanya dipindahkan ke Gundishapur. Pada abad ke-6, Gundishapur memperoleh reputasi yang sangat baik di seluruh abad pertengahan sebagai pusat penelitian medis yang terkemuka.  Meskipun disiplin ilmu lain juga diajarkan di Gundishapur, namun sekolah itu mengkhususkan pendidikannya terhadap ilmu medis. Pusat pembelajaran dan produksi pengetahuan di Gundishapur bertahan bahkan setelah penaklukan Islam. Tradisinya berkontribusi pada pengembangan obat Islam, yang berpuncak pada karya-karya Ibn Sina (Avicenna). Sekolah kedokteran memainkan peran penting dalam dunia Islam selama Abad Pertengahan. Namun, keilmuan Islam yang maju tidak diragukan lagi terkonsentrasi di madrasah. Di lembaga inilah berbagai disiplin ilmu dunia kuno diajarkan.

Awalnya, kurikulum madrasah difokuskan pada teologi Islam. Seiring waktu berlalu, kurikulum melebar dan menampung disiplin ilmu lain seperti filsafat, matematika, etika, logika dan hukum. Tidak semua madrasah memiliki kurikulum studi yang luas atau bahkan diajarkan di tingkat yang lebih tinggi. Madrasah-madrasah yang lebih besar, disebut Jamiah memiliki sumber daya untuk mengajar mata pelajaran yang lebih luas. Bahkan, orientasi studi universal dari beberapa jamiah, fakultas khusus, dan pemberian gelar menyebabkan beberapa ahli untuk membandingkannya secara langsung dengan universitas Eropa. Dua contoh paling terkenal dari madrasah adalah Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez. Al-Azhar didirikan pada abad ke-10 sementara Al-Qarawiyyin didirikan pada 859 M dan dianggap oleh beberapa orang sebagai universitas tertua di dunia. UNESCO mengakui Al-Qarawiyyin sebagai World Heritage Centre, dan rumah bagi universitas tertua di dunia mengingat fakta bahwa Al-Qarawiyyin adalah institusi pertama yang memberikan gelar akademik. Disiplin yang diajarkan di Universitas Al- Qarawiyyin cukup luas. Bersamaan dengan studi Al-Quran, termasuk filsafat, astronomi dan matematika. Di antara para guru dan muridnya adalah tokoh-tokoh penting dunia Muslim seperti Al-Idrisi, Ibnu Khaldun, Ibn al-Arabi dan Leo Africanus. Menurut Najjar, “Era keemasan Al-Qarawiyyin berada di abad 12, 13, 14 dan 15, yaitu, di bawah Almohades dan sepanjang masa pemerintahan Merinids [...] Pada masa itu universitas menarik siswa tidak hanya dari Afrika dan dunia Muslim di luar, tapi bahkan dari Eropa. ”

Al-Qarawiyyin sebagai Pelita Pendidikan Tinggi

Al-Qarawiyyin didirikan sebagai sebuah masjid, atau rumah ibadah bagi umat Islam dan didirikan melalui tanah wakaf (pemberian sukarela publik). Pada awalnya, Al- Qarawiyyin dipusatkan bagi lembaga pendidikan teologi Islam namun lama kelamaan disiplin ilmu yang diajarkanpun berkembang. Al-Qarawiyyin didirikan oleh seorang perempuan, Fatima Fihriya. Fatima adalah seorang dermawan yang menginvestasikan kekayaan dan waktunya bagi kebaikan di masa depan. Mimpi Fatima adalah mendirikan masjid terbesar di Afrika Utara. Fatima lalu menginisiasi pendirian masjid ini sekaligus mengawasi jalannya pembangunan masjid, termasuk perhitungan biaya dan pemilihan bahan-bahan bangunan. Setelah masjid besar yang diimpikannya terwujud, Fatima memperbesar visinya dan membentuk kelas-kelas belajar di masjid. Kelas-kelas inilah yang kemudian menjadi Universitas Al Qarawiyyin yang hingga kini masih beroperasi secara aktif. Universitas Al- Qarawiyyin kemudian menjadi kunci pembuka bagi peradaban di Fez.



Fatima Fihriya telah membantu transformasi Fez menjadi kota besar pusat intelektual, kultur, dan spiritual bagi dunia muslim dalam dunia barat yang didominasi oleh nasrani. Dalam beberapa dekade, Universitas Al-Qarawiyyin menjadi institusi terkemuka dalam pembelajaran, menarik banyak ilmuwan dari penjuru dunia dan mendapatkan kehormatan dari banyak ilmuwan Islam dan para Raja. Bagaikan bara api yang membara, pribadi Fatima yang peduli dengan sekitar dan kebijaksanaannya dalam menggunakan kekayaan keluarga telah memantik sebuah revolusi pendidikan termahsyur di zamannya. Dengan ini, Fatima telah membantu bangkitnya era pembelajaran dan eksplorasi dalam dunia Islam. Al-Qarawiyyin menjadi terlalu populer hingga para mahasiswa harus melalui tes masuk untuk bisa mendapatkan tempat di Al-Qarawiyyin. Al-Qarawiyyin juga menjadi salah satu jembatan penting dalam pertukaran ilmu antara dunia Islam dan Barat. Ilmuwan Gerbert d’Aurillac yang kemudian menjadi Paus Sylvester II belajar di Al-Qarawiyyin dan memperkenalkan angka arab dan konsep Nol pada Eropa Abad Pertengahan.

Al-Qarawiyyin terus melahirkan banyak ilmuwan terkenal termasuk filsuf dan fisikawan Yahudi, Maimonides, ahli matematika dan fisikawan, Averroes, sejarawan dan filsuf Ibnu Khaldun dan pengarang terkenal, Hassan al-Wazaan atau dikenal juga sebagai Leo Africanus. Al-Qarawiyyin juga memiliki salah satu perpustakaan terbesar dan merupakan salah satu yang tertua didunia. Perpustakaan ini menyimpan setidaknya 30.000 buku termasuk Al- Qur’an dari abad ke-9 dan berbagai macam manuskrip keislaman yang telah berumur lebih dari 1.000 tahun. Faktanya, Al-Qarawiyyin masih berkembang dan berfungsi setelah satu milenium berlalu. Semua ini merupakan hasil dari ketekunan dan dedikasi Fatima Fihriya, yang meninggal pada 880 M. Atas ketekunannya, pendidikan publik yang terlembaga telah tersebar ke penjuru dunia dan menjadi penggerak kebudayaan. Visi, aspirasi, kedermawanan, dan ketulusannya telah membawa kekayaan yang tak terhingga bagi peradaban dunia. Fatima, anak perempuan dari Afrika Utara, telah menggelarkan contoh terbaik tentang bagaimana seorang manusia dapat menjadi pembuka jalan yang paling berpengaruh bagi generasi mendatang, bahkan setelah 1.000 tahun lamanya.



0 comments