Iya, Kamu Kumaafkan



Sejak kecil dulu, hari lebaran adalah hari meminta maaf dan memaafkan. Setelah pagi-pagi buta mandi dan berjalan kaki ke lapangan desa, menghirup udara pegunungan dan memandang hijaunya hamparan sawah, kami semua bersembahyang. Lalu pulang ke rumah masing-masing. Sebagai orang yang menduduki garis keempat di keluarga besar, maka saya akan selalu mengantri paling belakang, berjalan dengan lutut menuju mbah buyut di pusat lingkaran. Pegal dan sakit, tentu, tapi enaknya menjadi 'si paling bontot' di keluarga besar adalah saya selalu diperlakukan sebagai 'si paling bontot' juga: mendapat uang fitrah tiap lebaran meskipun saya sudah bekerja dan selalu dipanggil 'dek' dimana-mana.

Ritual meminta maaf ini dimulai dengan yang paling tua, paling diajeni. Setelah itu minta maaf ke keluarga inti masing-masing. Begitu terus berturut hingga ke yang paling muda. Lalu hari kedua akan bersafari meminta maaf kepada keluarga besar jauh, tapi sebelumnya meminta maaf dulu kepada tetangga-tetangga, bukan tetangga saya tentunya karena saya tidak tinggal di kampung halaman ini. Meminta maaf pada teman-teman saya sendiri dilakukan kemudian, lewat telpon atau saat bertemu di kampus. Semuanya sama, meminta maaf dan memberi maaf.

Tahun ini bukan tahun-tahun biasanya. Bahkan tidak ada sembahyang beramai-ramai. Sehabis sembahyang di rumah, karena daerah tempat tinggal saya masih berstatus zona merah, kami makan ketupat dan opor. Setelah makan lalu berkumpul di ruang tamu, dengan toples-toples kue kering dan kudapan yang hanya akan dimakan sendiri, kami mulai menelpon keluarga besar satu-persatu. Saling meminta maaf dan melambaikan tangan, oh.. juga memamerkan ketupat yang dimakan bersama-sama di rumah masing-masing, melalui layar ponsel. Lalu, lebaran selesai. Keponakan saya menyalakan televisi menonton Spongebob. Saya membuka laptop, menulis.

Mana acara maaf-maafnya? Oh ya, saya lupa. Padahal itulah yang membuat saya menulis. Sebelum makan ketupat dan opor, setelah sembahyang, saya dan adik-adik bersimpuh di hadapan mama, meminta maaf. Mama saya adalah segalanya selain Asian parents twitter typical yang menganggap orangtua adalah dewa. Bukan. Mama meminta maaf atas kehidupan yang diberikannya pada kami, belum ada apa-apanya dibanding kehidupan yang sesungguhnya ingin dia berikan, katanya. Saya bahkan tidak perlu mengucapkan apa-apa selain kata 'maaf' sebelum mama sendiri yang mengatakan bahwa "Tidak apa-apa." saya dimaafkan, atas semua kesalahan dan kegagalan saya menjadi anak yang seharusnya membanggakan beliau dan mengangkat derajatnya. Saya dimaafkan. "Mama selalu bangga sama kamu,"

Sebelumnya, saya tidak pernah merasa begitu lega telah dimaafkan.



Pernyataan mama lalu mengingatkan saya pada satu orang yang tidak pernah saya pinta-pinta maafnya: diri saya sendiri.

Sudah seperempat abad, entah sudah berapa tumpuk kesalahan yang saya perbuat pada diri saya sendiri, secara lahir maupun batin. Saya mendadak merasa menjadi manusia paling jahat di dunia karena saya tidak pernah menyayangi diri saya sendiri. Jadi, hari ini saya ingin menuliskan permintaan maaf pada diri sendiri setelah bertahun-tahun ini selalu saya abaikan. Semoga dengan ini saya jadi tidak pernah lupa lagi bahwa orang paling pertama yang perlu saya maafkan sesungguhnya adalah diri saya sendiri.

Flory, kamu kumaafkan.

Untuk luka-luka perih di lutut dari latihan rollerskate setiap sore bahkan ketika hujan karena kamu bersikeras menjadi atlet seluncur es setelah acara nonton Ice Princess ramai-ramai di rumah temanmu belasan tahun silam.

Untuk kekecewaan pahit pertamamu ditolak sekolah menengah pertama impianmu di Jakarta.

Untuk keberanianmu pindah sekolah ke kota kecil yang penuh dengan kuda dan jajanan mengerikan.

Untuk kecintaanmu yang besar pada Biologi, dan usahamu menghapalkan 33 nama tulang orang dewasa, dan tetap tidak bisa masuk tim olimpiade karena "Sekolah kita sudah kebanyakan perwakilan perempuan."

Untuk dua malammu menghapalkan kronologi penyerangan kilat ke Polandia secara tekstual namun membiarkannya tak terpakai karena kamu tidak cukup percaya diri mengajukan diri ke depan kelas, jadi kamu duduk di bangkumu memandang Nirmala menjelaskan kronologi penyerangan dengan banyak detail yang tidak terjelaskan, kamu kumaafkan.

Untuk semangatmu yang membara di balik meja, mempresentasikan Perserikatan Bangsa Bangsa di kelas Kewarganegaraan. Untuk keyakinanmu selepas jam istirahat bahwa ini hidup yang kamu inginkan dan untuk keyakinan bahwa kamu bisa mencapainya, sekarang Flory, nyaris satu dekade setelahnya, kamu belum bisa dan kamu kumaafkan.

Untuk pagi dan sore yang kamu lalui berjalan berkilo-kilometer hanya untuk bisa masuk kelas dan belajar.

Untuk semua surat aplikasi yang kamu tulis dan kamu kirim dan ditolak.

Untuk waktu-waktu yang kamu habiskan menulis dan membaca ulang semua tugasmu sebelum mengumpulkannya.

Untuk semua bolak-balik dan proyek-proyek sosial yang bagimu tidak maksimal dan tidak berdampak.

Untuk kesempatan-kesempatan yang seharusnya bisa kamu dapatkan, tapi tidak, kamu kumaafkan.

Untuk orang-orang yang membencimu tanpa sebab, orang-orang yang hilang tanpa kamu tahu kenapa.

Untuk semua usaha yang kamu berikan dan tersia-sia.

Untuk membiarkan dirimu merasa bahwa kamu tidak cukup.

Untuk membiarkan dirimu dihargai begitu sedikit, begitu minimal.

Untuk membiarkan dirimu merasa bahwa kamu tidak layak mendapatkan yang kamu inginkan.

Untuk membiarkan dirimu percaya bahwa yang kamu inginkan berlebihan.

Untuk membiarkan dirimu patah walau sudah bersumpah bahwa kamu adalah wanita kuat yang tidak mudah patah.

Untuk membiarkan dirimu membutuhkan kehadiran orang lain untuk merasa baik-baik saja.

Untuk membiarkan dirimu merasakan sakit terus menerus dari orang-orang yang kamu pikir bisa berbagi kebahagiaan,

dan untuk membiarkan dirimu berpikir bahwa selama ini hanya kamu yang salah, kamu kumaafkan.

Untuk hal-hal yang belum selesai, hal-hal yang kamu juga masih tidak tahu bagaimana berjalannya, untuk hal-hal yang masih membingungkan, dan kamu benci menjadi bingung, dan untuk hal-hal yang kamu bahkan tidak punya kata untuk menjelaskannya, kamu kumaafkan.

Selamat idulfitri, Flory.

Semoga, meskipun kamu belum bisa memaafkan semua kesalahanmu, kamu hidup dengan bahagia. Selalu.

0 comments