Menjadi Pria dan Wanita Tidak Memberikan Kita Pilihan Untuk Menjadi Benar





Beberapa waktu lalu, saya sedang membaca linimasa twitter ketika tidak sengaja membaca sebuah cuitan yang sangat menganggu. Bukan, bukan video manusia-manusia laknat yang menyiksa kucing itu, puji syukur Tuhan masih melindungi saya dari video keji tersebut, yang mengganggu pikiran saya adalah sebuah cuitan sederhana seorang pria yang marah-marah atas kemanjaan dan keketusan wanita yang tidak mau belajar masak dengan dalih "Kamu mencari istri atau babu?". Semalaman saya memikirkan cuitan tersebut, kepala saya terasa panas. Tidak, pemikiran dan ide yang sangat kuno tersebut tidak lagi pantas mendapatkan cukup perhatian. Sudah usang. Tidak perlu diperdebatkan.

Lalu saya ingat ratusan bahkan mungkin ribuan komentar yang menyetujui pemikiran pria tersebut, yang sayangnya juga datang dari banyak wanita.

"Iya, bingung deh, padahal kan cewek memang kodratnya begitu!"

"Suka ngga ngerti sih sama cewek yang ngatain gitu."

"Apa susahnya sih belajar masak? masa iya kalo nanti anaknya minta dimasakin juga bakalan ngomong 'emang gue babu?' kan ngga."

Semua komentar itu sebenarnya tidak menimbulkan masalah. Yang membuat kepala saya panas dan jadi kepikiran adalah kalimat yang mengikuti sesudahnya. "Kalau hanya modal ngangkang, open BO saja!", kira-kira seperti itu kalimatnya tanpa ubahan, saya coba menemukan kembali cuitannya tapi sudah tidak ada. Itulah yang membuat saya marah, apa memang bagi sebagian orang peran istri hanya terbatas pada memberikan layanan dapur dan kamar tidur? Seolah-olah, kalau hanya peran kasur yang diberikan maka wanita tidak layak menjadi istri?

Saya tidak punya masalah dengan pernyataan "Wanita harus bisa masak", sebagai manusia yang butuh makanan, tentu saja wanita harus bisa masak, pria juga harus bisa masak. Sederhananya, sebagai makhluk hidup, manusia harus bisa memasak. Kalau ternyata memang peran istri lalu secara eksklusif disematkan kepada pengurus dapur, saya juga tidak masalah. Itu masalah generasi yang terlalu lekat dan kuat untuk dipecahkan, dan terlalu trivial, peradaban kita tak akan maju kalau hanya memperdebatkan permasalahan itu. Lalu kalau ternyata ada wanita-wanita yang kemudian memilih sebagai pengurus dapur, saya juga tidak masalah. Yang masalah adalah pria yang menganggap bahwa hanya ada dua jenis wanita di dunia: si pemasak dan si pemuas.

Beberapa hari setelahnya, sebuah cuitan kembali tidak sengaja saya lihat di linimasa. Protes seorang wanita untuk all-male panel di sebuah acara fotografi. "Kok semuanya pria? mana keterwakilan wanita?" Dan tentu saja pertanyaan itu diikuti debat berkepanjangan oleh akun-akun lainnya. Debat yang kemudian berujung pada kesuksesan, kualitas, dan kesempatan yang dimiliki wanita.

Alamak, susahnya hidup menjadi wanita. Apalagi menjadi wanita yang tidak cantik. Sebentar, tidak perlu menyinggung masalah cantik, beauty privilege perlu satu pembahasan penuh tersendiri.

Alamak, susahnya hidup menjadi wanita. Ingin menjadi CEO perusahaaan teknologi besar dilempar bungkusan kertas kusut dengan tulisan "Mimpi lu, ya!". Ingin menjadi sutradara peraih penghargaan film bergengsi dicoret keluar dari karpet merah dengan tulisan "Duh, belum waktunya!" Susah sekali mau jadi wanita sukses yang kuat. Nanti pria minder. Nanti jadi perawan tua tidak laku-laku!

Ya sudah, ingin menjadi ibu rumah tangga saja supaya sesuai kodrat. Eh.. masih juga dicibir kelompok pembela keperkasaan kaum wanita. Masih juga dicibir kaum intelek ibu-ibu yang membeli sayur dari abang di gerobak beroda, "Kasihan ya itu, sudah sekolah tinggi-tinggi ke Monash eh akhirnya cuma gantiin popok bayi dan cuci kolor suami". Menjadi kuasa salah, menjadi pasrah lebih salah.

Apa memang hidup menjadi wanita begitu susahnya ya di masa modern ini? Tentu tidak, hidup menjadi wanita di jaman dulu lebih susah lagi. Wanita perlu merepotkan anggota konsil yang harus bersidang berlama-lama menentukan apakah wanita punya jiwa yang sama seperti manusia atau hanya jiwa binatang. Itu sejarah, cari saja kalau tidak percaya.

Saya belum pernah punya keinginan untuk memiliki anak perempuan. Mereka penuh drama, belum lagi harus berurusan dengan naik turun emosi pubertasnya atau harus menguliahi masalah seksual dan keperawanan dan kehormatan. Duh, nilai mana yang akan saya pakai? Ruwet, kan? Lebih baik memiliki anak laki-laki, sederhana, tidak rumit, bahkan setelah menikahpun masih akan jadi milik saya, ibunya. Hmm.. Tidak heran dulu bayi perempuan dikubur setelah dilahirkan.

Pikiran saya yang sibuk lalu tenang untuk seharian.

Sampai saya membaca sebuah cuitan lagi. Astaga.. Memang ya menjadi pengguna twitter aktif membuat pikiran kita tidak damai dan tentram, padahal saya tidak mengikuti akun-akun keributan.

Cuitan yang saya baca kali ini ternyata cuitan tepi jurang. Cuitan yang mengambil sisi tidak biasa. Cuitan yang menurut saya bagus sekali, yang sudah lama saya sadari kebenarannya tapi tentu saja, sama seperti predikat pengurus dapur wanita yang lekat, sulit diuraikan.

Cuitan tentang betapa pria juga hidup dalam pusaran ketidakadilan yang sama besarnya bagi wanita. Selalu dinilai sebagai sumber kuasa dan kekuatan, pria adalah keagungan. Pria menjalani kehidupannya lebih sulit di dunia yang lebih menyukai wanita ini. Pria tidak bisa menemukan kasih sayang dan kehormatan tanpa kesuksesan, tidak bisa dihargai sesederhana fakta bahwa ia adalah manusia. Kesuksesan dan kuasa adalah tolak ukur pria, yang tanpanya, pria bukan apa-apa.

Kasihannya hidup menjadi pria. Saya jadi kepikiran, punya anak laki-laki juga akan sama susahnya dengan punya anak perempuan. Bagaimana saya akan membuat anak laki-laki saya paham bahwa saya, ibunya, mencintai dia apapun keadaannya? Tentu sulit, tentu dia akan lebih percaya pada standar sukses yaitu bekerja sebagai direktur start-up ibukota yang ditentukan oleh anak tetangga kami. 

Kasihannya hidup menjadi pria. Saya jadi teringat dulu, saat saya masih duduk di bangku SMP dan menjadi pengurus mading, saya pernah menulis artikel dengan judul 26 Keuntungan Dilahirkan sebagai Wanita (wow, tidak menyangka saya ternyata feminis sebelum feminis itu keren). Salah satu keuntungannya adalah wanita selalu menjadi prioritas untuk diselamatkan di situasi berbahaya apapun, seperti saat tenggelamnya kapal Titanic. Aduh, padahal untuk apa diselamatkan agar tetap hidup kalau prianya tida diselamatkan juga? Kan, meminjam ide dan logika beberapa pria, wanita tidak akan bisa hidup dan makan tanpa belas kasih pria sukses.

Ya, pria harus sukses. Kalau tidak sukses, siapa yang akan membelikan rumah untuk istri dan anak-anaknya? Siapa yang akan meninggalkan warisan kepada keluarganya? Pria harus sukses. Wanita punya pilihan untuk menjadi sukses, tentu. Jika pilihannya menjadi sukses ternyata gagal, wanita akan 'dengan mudahnya' berhenti mencoba sukses dan menjadi ibu rumah tangga, menjadi pasif. Pria tidak punya pilihan tersebut. Adakah keadaan yang lebih tidak adil ketimbang tidak diberi kesempatan untuk gagal?

Awalnya, saya kagum dengan pemikiran tersebut. Wow. Kemudian, saya bingung dan terheran-heran. Kemana perginya kenangan orang-orang akan pidato luar biasa yang diberikan oleh Emma Watson enam tahun lalu? Bahwa menjadi lemah, gagal, dan sedih adalah sederhananya menjadi manusia?

Ide kesetaraan gender yang secara megahnya digaungkan dan diulangi oleh banyak orang di dunia itu kemudian juga menjadi sama pucatnya dengan gaung kebangkitan wanita, ya?

Ide Emma Watson 'He for She' ini kemudian ditantang oleh sebagian orang yang menganggap bahwa 'He and She for Us' adalah ide yang lebih baik. Tentu saja, ide-ide ini kemudian hanya menjadi ramai di masyarakat yang telah cukup maju dan kaya, yang tidak perlu memikirkan kebutuhan dasar sehari-hari, yang menjamin pendidikan berkualitas bagi sebagian warganya. Sebuah ide yang tentu, dengan ketimpangan terlalu jauh di antara komunitas-komunitas di dunia, akan menjadi kenyataan entah di berapa ratus tahun mendatang.

Lalu, apa benar tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menjadi sebenar-benarnya Wanita dan sebenar-benarnya Pria? Kemana kita harus berkiblat? Apakah kisah penciptaan Adam dan Hawa bisa menjadi rujukan peran dan kedudukan pria wanita yang sesungguhnya? Apakah orang-orang kemudian tidak akan terganggu dengan kenyataan bahwa tidak ada satupun nabi wanita? Seberapa jauh sebenarnya kesetaraan itu dapat hidup dalam kenyataan?

Dan lagi.. Sebagaimana banyak, banyak esai serta tulisan mengenai kesetaraan gender dan Pria-Wanita/Wanita-Pria yang bertebaran di muka bumi ini, cerita saya inipun juga akan berakhir dengan tanya dan tanpa kepastian.

Apakah menjadi pria dan wanita tidak memberikan kita pilihan untuk menjadi benar-benar pria dan menjadi benar-benar wanita?




catatan:
Saya melampirkan beberapa tautan yang memberikan tulisan-tulisan bagus mengenai kesetaraan gender dan pemikiran-pemikiran yang melingkupinya, bisa ditemukan di bawah ini:

1 comments

  1. Benar dunia memprioritaskan wanita dan juga tetap mengagungkan peran pria

    BalasHapus