Pecandu Penjelasan




Mengapa kita selalu menuntut penjelasan?

Mendapatkan penjelasan atau memahami alasan, bagi saya, merupakan salah satu hal dasar bagi segalanya dan ternyata begitu juga bagi orang lain. Secara psikologis, hal ini adalah sebuah kewajaran. Mengetahui alasan di balik suatu kejadian tidak hanya berpengaruh terhadap emosi tetapi juga merupakan hal yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Yang menarik tentu saja mengetahui bagaimana alasan dapat mempengaruhi emosi kita yang kemudian akan mendorong kita dalam melakukan suatu hal.

Misalnya, ketika atasan di kantor meminta kita mengambil jatah kerja dobel di akhir pekan, kita pasti akan keberatan dan uring-uringan, mungkin. Tetapi saat kita tahu bahwa ternyata kita harus mengambil jatah kerja dobel karena salah satu rekan kerja harus pergi untuk terapi di akhir pekan, tentu kita akan dengan senang hati mengambil jatah kerja dobel itu. Terkadang, alasan saja cukup bagi kita untuk melakukan suatu hal, bahkan ketika hal tersebut tidak menyenangkan.

Saya adalah pemuja 'alasan'. Bagi saya segala hal di dunia ini harus ada alasannya. Dan harus masuk akal. Tidak mendapatkan kejelasan adalah mimpi buruk bagi saya. Kenapa tidak boleh berkendara di waktu maghrib? Kenapa tidak boleh memotong kuku di waktu malam? Kenapa saya tidak pernah diizinkan takbiran keliling bersama teman-teman?

Ketiadaan alasan yang bisa memenuhi logika adalah hal yang saya benci. Saya ingat bertahun lalu saat kuliah di kelas Politik dan Pemerintahan Islam, dosen saya terus menerus menyatakan bahwa politik islam adalah model politik terbaik bagi pemerintahan. Kenapa? Karena Islam diciptakan oleh Tuhan dan karena kita juga diciptakan oleh Tuhan, sehingga layaknya yang terbaik bagi kita juga adalah yang diciptakan dari Tuhan, bukan manusia. Tidak masuk akal. Saya ingat menulis esai untuk ujian akhir semester dengan sarkasme yang tak habis-habis di lembar ujian, ironisnya saya mendapat nilai A.

"Ada hal-hal yang ngga bisa dijelaskan sekarang."

Tentu. Dunia ini adalah, tak lain dan tak bukan, dataran penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan. Karena itu harapan saya untuk surga, salah satunya, adalah Tuhan akan memberikan semua penjelasan untuk setiap misteri yang terjadi di dunia ini. Siapa pembunuh J. F. Kennedy? Kemana perginya Amelia Earhart? Mengapa banyak kapal karam di segitiga Bermuda? Siapa sebenarnya Ir. Soekarno? Bagaimana linimasa antara nabi Adam dan Pithecanthropus Erectus bersisian?

Kecenderungan untuk selalu mendapat kejelasan akan suatu hal membuat saya menjadi orang yang terkadang menyebalkan. Sebab, tentu saja, tidak semua hal bisa dijelaskan, atau tidak semua hal saya harus tahu alasannya.

Tapi saya toh tetap mencandu penjelasan dan alasan. Dalam perihal kue dan roti, contohnya. Kenapa saya harus mencampur margarin dan mentega? Kenapa hanya putih telur yang digunakan? Kenapa adonan donat saya tidak kalis setelah diuleni selama sejam? Beberapa saya akhirnya tahu alasannya.

Margarin membuat bentuk kue menjadi kokoh, sehingga jika adonan kue kering hanya menggunakan margarin saja maka kue akan cenderung renyah namun tetap agak keras. Mentega melembutkan kue, sehingga jika adonan kue kering hanya menggunakan mentega saja maka kue akan cenderung rapuh karena terlalu lembut. Kuning telur melezatkan kue sementara putih telur mengembangkan kue, maka dari itu putih telur digunakan lebih sering saat membuat bolu dan roti. Tepung protein tinggi digunakan untuk membuat donat dan roti agar adonannya mengandung lebih banyak gluten dan bisa elastis. Tepung protein rendah digunakan untuk membuat kue kering agar adonan dapat renyah dan tidak lembek meskipun disimpan lama. Garam terkadang digunakan dalam adonan untuk mengikat kelebihan cairan. Pengocokan adonan menggunakan mixer digunakan saat membuat bolu agar bolu dapat mengembang dengan baik sementara dalam membuat kue kering pengocokan dapat dilakukan menggunakan alat biasa agar adonan tidak terlalu mengembang dan menyatu saat dipanggang di dalam oven.

Apakah itu semua benar? Saya tidak tahu karena saya belum pernah belajar teknik pangan. Tetapi penjelasan tersebut bagi saya cukup untuk kemudian kembali melanjutkan urusan pembuatan kue dan bolu menjelang lebaran.

Alasan dan penjelasan memang penting bagi manusia. Bahkan ketika penjelasan itu terkadang belum pasti atau bahkan tiada kebenarannya.

0 comments