Bukan Bahagia yang Kamu Cari





Mereka bilang kita hanya akan menemukan tiga cinta dalam hidup kita. Yang pertama adalah cinta kekanakan yang manis namun hilang karena satu atau dua hal bodoh. Setelah kita dewasa dan melihat kembali pada cinta tersebut, kita mungkin berpikir bahwa itu sama sekali bukan cinta. Tapi itu cinta, demi pemahaman apapun yang kita miliki setelahnya, yang kita rasakan saat itu memang cinta.

Yang kedua adalah cinta yang menyakitkan, yang mengajarkan kita satu dua pelajaran pahit. Tapi kita bertumbuh dan menjadi kuat karena cinta ini. Pengkhianatan, kebohongan, dan kerusakan yang terasa adalah hal yang kita perlukan dalam pendewasaan hidup. Kita tahu apa-apa yang kita mau dan tidak mau dalam sebuah hubungan.

Yang ketiga adalah keajaiban. Datang tanpa peringatan. Kita tidak mencarinya, ia datang, perlahan dan tanpa disangka-sangka. Semua tembok dan pagar tinggi yang kita bangun, luruh. Kita melihat hanya keindahan pada ketidaksempurnaannya. Kita melihat masa depan dan rumah dan kebahagiaan. Di hadapannya kita telanjang tanpa rahasia. Kita bersyukur pada semesta telah menunjukkannya. Kita sungguh-sungguh mencintainya.

Pagi

Namaku Bulan. Aku sudah menemukan cinta yang ketiga. Dan kehilangannya. Kadang aku berpikir aku kehilangan orang yang benar-benar luar biasa. Aku kehilangan cinta yang benar. Selama tiga tahun kita bersama, aku selalu merasa bahagia. Terlepas dari semua kekurangannya, kecemburuannya, kegilaannya, dia mencintaiku dan tidak menginginkan apapun selain kebahagiaanku.

Malam

Namaku Bara. Cinta pertamaku adalah wanita yang hebat, begitu hebat hingga aku tahu aku tidak pantas bersanding dengannya. Begitu istimewa hingga aku tahu dia akan lebih bahagia bersama laki-laki lain yang setara dan sejajar dengannya. Melepasnya adalah salah satu hal yang paling sulit yang pernah kulakukan. Dia memberiku banyak sekali kebahagiaan. Di hari-hari terakhir kami bersama, kami selalu bertengkar, dan tentu saja semua pertengkaran itu aku yang mulai. Bulan tidak pernah marah. Tidak pernah memulai pertengkaran. Bulan adalah wanita yang luar biasa.

Pagi

Bara memperlakukanku seperti aku satu-satunya wanita cantik di dunia. Ia memberiku semua cinta yang selama ini tidak pernah aku dapatkan. Bara membuatku merasa istimewa. Lalu aku menjadi istimewa.

Aku ingat duduk di tepi tempat tidur, menonton berita malam di televisi saat Bara keluar dari kamar mandi dan berdiri diam, memandangku. Mata kami beradu.

"Kamu cantik sekali."

Malam

Aku tahu Bulan selalu punya pemikiran-pemikiran yang tidak bisa kupahami. Ia wanita besar dan ingin meraih hal-hal tinggi. Bulan selalu punya banyak pertanyaan. "Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan ini?" "Aku akan wawancara besok, bagaimana aku akan menjawab pertanyaannya?" "Aku sepertinya tidak akan bisa, ini susah!" "Sebaiknya aku harus bagaimana?"

Dan aku rela melakukan apa saja untuk menjadi orang yang bisa memberikan jawabannya. Tapi tentu saja, bukan aku orang yang akan ia kejar untuk mendapatkan jawaban, mendapatkan keyakinan. Bulan selalu lari pada manusia-manusia lain yang lebih mengenal kemampuannya, kebisaannya. Rasanya tidak peduli berapa kalipun aku mengatakan bahwa ia akan berhasil, ia tetap perlu pergi mencari keyakinan dari yang lain. Aku hanya tahu aku tidak akan bisa menjadi laki-laki yang bisa dia andalkan.

Pagi

Bara selalu menggenggam tanganku kuat-kuat setiap kali kita berjalan melintasi keramaian, seolah ia takut salah satu dari orang-orang di kerumunan itu akan menarikku pergi darinya. Bara selalu butuh diyakinkan bahwa aku masih miliknya. Setiap pagi. Setiap malam.

Bara tahu aku buta arah dan selalu tersesat di mana saja. Dia tidak pernah melepaskan pandangannya dariku, entah itu kita sedang berjalan di taman, di pasar, maupun di festival. Begitu detik pertama ia tidak melihatku, ia akan berpusing satu keliling mencariku. Bersama Bara aku tidak pernah tersesat karena ia selalu ada.

Aku ingat pagi itu di rumah. Masih pukul tiga. Aku duduk di meja kerja menyelesaikan pekerjaanku di komputer. Bara bangun dari tidur, menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya ia memutar kepala, menemukanku di sudut ruangan dan tersenyum.

Malam

"Kamu pasti akan melupakanku,"

Aku ingat isak tangis Bulan malam itu di telpon saat aku mengakhiri hubungan kita. Adalah kemustahilan aku bisa melupakannya. Dan itu bukan hanya lidah laki-lakiku yang berbicara memperhalus luka perpisahan. Bulan adalah cinta pertamaku, ada banyak hal yang tidak akan bisa kulupakan.

Seperti saat kami berkendara serampangan berlari dari hujan. Sial, namanya saja kota hujan tentu akan memberikan hujan. Hari sudah menjelang malam saat kami tertawa-tawa di atas sepeda motor, kuyup dan kedinginan. Bagian atas lenganku masih terasa hangat terkena pukulan Bulan karena aku hampir menabrak bapak-bapak yang menyeberang jalan. Kita kedinginan, tapi tidak masalah karena kita bersama-sama.

Atau seperti saat kita berkendara di jalur cepat di kota kembang. Diiringi deru truk besar dan bising angkutan kota. Diselingi angin sore yang berhembus kencang. "I love you, Bara!" Bulan berteriak kencang dari boncengan di belakang. Kita adalah dua manusia yang sedang memainkan film romantis saat itu. Tidak ada lagi orang lain di jalan raya panjang itu.

Atau seperti saat gerimis turun dan Bulan kelaparan sehingga aku harus ke minimarket membeli jajanan kesukaannya. Aku ingat membuka pintu dan menemukannya dengan mata memerah menahan tangis, selimut ditarik sampai ke dagu. Ia menyerbu dan memelukku, menutupi pandangan mataku dengan rambut panjangnya yang halus.

"Kenapa lama sekali perginya, sudah setengah jam kamu pergi,"

Pagi

Seharusnya Bara bisa menjadi laki-laki yang lebih baik. Yang percaya diri. Yang percaya aku tidak mencari yang lebih baik dari dia. Seharusnya Bara percaya bahwa aku hanya perlu berhasil dalam hidup ini, dan bahwa seberapa tinggipun aku nanti, aku akan selalu bersamanya.

Seharusnya Bara tidak perlu cemburu pada semua orang yang kutemui. Atau pada semua kesempatanku untuk menjadi manusia yang lebih baik. Seharusnya Bara tahu bahwa mencintai adalah menjadi baik bersama-sama. Seharusnya Bara juga bersamaku, memperbaiki diri.

Kita pasti tetap akan saling mencintai, ya kan? Kamu pasti sudah akan menjadi yang satu-satunya, Bara. Kalau saja kamu bisa menjadi laki-laki yang lebih baik.

Malam

Lalu ku putuskan, Bulan akan lebih baik tanpaku. Tentu saja semua itu kuputuskan sendiri, tanpa bertanya, tanpa bicara. Bulan bahkan tidak repot-repot menanyakan kabarku akhir-akhir ini, sibuk dengan dunia barunya. Ia tidak akan tertarik membicarakan kita. Ia hanya akan mengerang dan mengatakan bahwa ia lelah, ia bosan, terus-terusan mempermasalahkan laki-laki lain yang ia bilang hanya teman.

Kalian tahu kan? Kita bisa mencintai seseorang, sungguh-sungguh mencintainya, sekaligus melepaskannya? Tahu, kan?

Pagi

Sampai saat ini, aku belum pernah menemukan laki-laki yang sebaik Bara. Bertemu laki-laki lain semakin meyakinkanku bahwa hampir semua jenis mereka adalah bajingan. Mungkin bahkan hingga jauh nanti aku tidak akan menemukan laki-laki lain yang mencintaiku sebesar Bara. Aku mau tak mau tersenyum tiap kali mengingat banyak hal yang Bara lakukan yang membuatku merasa menjadi wanita nomor satu di dunia.

Tapi aku juga tahu, hidupku tidak akan menjadi hidup yang aku mau bila aku tetap bersama Bara yang dulu. Aku mual memikirkannya. Getir.

Ternyata cinta dan bahagia saja tidak cukup bagiku. Aku juga butuh penyemangat. Aku butuh penyelamat. Bara tidak bisa memberikan itu semua. Mungkin tiga tahun, lima tahun dari sekarang, aku akan duduk sendirian di pesta pernikahan teman-temanku, menyesali keputusan untuk tidak kembali pada cinta Bara. Mengutuk keinginanku pada cinta yang terlalu sempurna. Pada bahagia yang tidak nyata. Pada harga-harga yang aku tidak mau tawar.

Malam

Bulan lenyap dari kehidupanku seperti saat ia datang ke kehidupanku sore itu: tiba-tiba dan dalam sekejap. Aku bersyukur memilikinya sebagai cinta pertamaku. Kalau saja Bulan seperti wanita-wanita biasanya, kalau saja Bulan tidak perlu sehebat itu, kita tentu sudah akan bahagia. Sudah tidak lagi akan mengkhawatirkan masa depan.

Tidak ada wanita yang kutemui saat ini atau nanti, yang akan bisa seperti Bulan. Tapi, tentu saja sama seperti bulan, ia diciptakan memang hanya untuk dilihat dan dikagumi dari kejauhan. Dari bumi yang rendah dan terlupakan.

0 comments