Hati



Aku tidak pernah suka kelas Konseling. Kelas yang bagiku aneh dan buang-buang waktu. Semua orang tahu bahwa masa remaja adalah masa-masa penuh tekanan. Semua temanku tidak tahu sedikitpun tentang apa yang sebenarnya terjadi di hidup mereka. Kita tidak tahu kemana kita akan pergi setelah lulus sekolah. Ironisnya, orang-orang yang tampaknya sudah tahu dan yakin justru juga hanya menambah kerumitan. Sebagian dari kami tahu persis apa yang kami inginkan, sebagian lainnya hanya ingin menikmati hidup di atas vespa keluar kota.

Aku tidak pernah suka kelas Konseling. Satu jam penuh mendengarkan masalah remaja yang diceritakan ulang oleh orang yang sudah tidak lagi remaja. Seringnya berujung pada ketiadaan solusi selain "percaya pada dirimu sendiri" dan "semua akan baik-baik saja selama kalian tidak pernah mencoba narkoba". Yah...

"Selamat siang, semuanya!"

Bu Nira berjalan anggun memasuki kelas. Seragam mengajar kecoklatan jatuh longgar di sekeliling tubuh paruh bayanya. Bu Nira memang cocok menjadi guru Konseling, suaranya halus, air mukanya pengertian, dan senyum tidak pernah pergi dari bibir mungilnya yang selalu berwarna merah muda. Ya, bahkan ketika Gofur, teman langganan ruang BK kami, dengan lantangnya menyebut "takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa" sebagai sila pertama pancasila, senyum bu Nira selalu sama hangat dan lebarnya.

"Hari ini ibu mau kita tidak banyak bicara,"

Seruan antusias terdengar ramai di seisi kelas.

"Ibu mau hari ini kalian berpikir,"

Sekarang lenguhan lelah terdengar dalam satu harmoni layaknya paduan suara upacara senin pagi.

"Tidak sulit, tidak sulit. Tolong dengarkan dulu, tugas ini akan menarik."

Keheningan berangsur-angsur merayap di ruangan kelas kami yang terang benderang. Bahkan Gofur juga ikut diam. Oh, tidak. Gofur tidak masuk hari ini. Kalaupun masuk tentu dia sudah akan memberikan komentar blak-blakan yang penuh kebenaran seperti "tugas dan menarik tidak bisa ada di satu kalimat yang sama, bu!"

"Baik," bu Nira menghela nafas masih sambil tersenyum, "Jadi kalian tahu bagaimana orang biasa mengasosiasikan hati kita yang di sini," bu Nira menunjuk dadanya dengan kelima jari tangan kanan, "dengan apa yang ada di dalam diri kita."

"Ibu ingin kalian mengisi kuesioner ini selama setengah jam, lalu setengah jam ke depan kalian akan memikirkan baik-baik apa yang ada di dalam diri kalian: motivasi, perasaan, apapun. Setelahnya, ibu mau kalian menggambarkan bentuk hati kalian di selembar kertas. Pikirkan bagaimana bentuk hati kalian saat ini, 16 tahun setelah kalian dilahirkan, dan kita akan lihat hasil tugasnya minggu depan. Ada pertanyaan?"

Bu Nira tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Tidak ada.

"Baik, Agis, tolong ambil kuesioner ini dan sebarkan ke teman-teman ya. Ok, jadi begini kita akan mengisi kuesionernya.."

***

Itu lima hari yang lalu. Sekarang lewat pukul 9 di dalam kamar. Aku mencoba berkonsentrasi penuh duduk di meja belajar yang dibelikan bapak saat aku kelas 4 dulu. Selembar kertas putih tebal masih kosong dan dengan pongahnya mengejek kemampuanku berimajinasi. Besok tugas ini akan dikumpulkan dan aku masih tidak punya ide bagaimana aku akan mengerjakannya.

Kenapa juga kita harus peduli bentuk hati kita seperti apa?

Aku menggerutu. Bukankah gambar hati di buku pelajaran Biologi seharusnya cukup untuk bu Nira?

Mengarang benar-benar bukan kekuatanku dalam pelajaran. Daya imajinasiku payah. Aku lebih suka berhitung dan mengukur, tidak ada kebingungan, hanya kepastian. Pasti salah atau pasti benar. Aku bukannya tidak mencoba mendapat bantuan dengan tugas ini. Sejak kemarin di sekolah aku sudah bertanya pada teman-temanku yang lain bagaimana mereka akan menggambar bentuk hati masing-masing.

Ryan, teman dekatku yang selalu putus asa akan cinta mengatakan bahwa gambar hatinya akan berwarna merah muda dengan warna biru gelap di sisi-sisinya. Ya, tentu. Karena hatinya sering dibuat babak belur oleh wanita-wanita.

Selly, anak rohis dengan kerudung lebar menjelaskan dengan penuh kelembutan padaku di depan masjid sekolah bahwa kertas gambarnya akan berwarna putih tanpa gambar atau garis apapun. Karena begitulah harapan ia akan hatinya: bersih dan tak terbatas.

Kris, sang juara kelas, mengatakan ia akan menggambar titik bulat kecil di tengan kertas. Dia bilang dia tidak peduli hatinya berbentuk seperti apa dan ketidakpedulian itu diwakilkan oleh titik hitam kecil di tengah kertas besar. "Manusia itu dikontrol oleh otaknya, Bri, ngga pernah hati punya peran besar dalam kehidupan manusia selain buat menyaring racun."

Gofur, yang terkekeh-kekeh saat mengetahui tugas aneh ini berseru dengan bangganya ke seisi kelas bahwa gambarnya akan berbentuk bulat dengan tiga kaki di dalam bulatan persis seperti simbol perlucutan senjata nuklir yang didesain oleh Holtom di tahun 1958. Tapi tentu saja Gofur mengira simbol itu adalah simbol pecinta musik reggae semata.

Semua informasi dari teman-temanku itu justru membuatku semakin bingung.

"Coba kamu pikirkan saja kebaikan-kebaikan atau kejelekan yang pernah kamu lakukan, siapa tau kamu jadi terinspirasi nanti." kata bapak sore tadi saat sedang menyirami rumpun bunga kesayangannya.

Aku menghela nafas dan meluruskan tubuhku di atas kursi. Baiklah, mari kita lihat. Aku meletakkan pensil dan mulai mengingat beberapa keburukan yang pernah kulakukan.

Aku pernah melempar bola basket begitu kerasnya ke anak kelas 10 saat kami melaksanakan pekan olahraga antar kelas semester lalu. Anak itu harus dibawa ke ruang kesehatan karena gagang kacamatanya menyodok wajah terlalu keras. Idiot mana yang bermain bola sambil menggunakan kacamata?

Aku juga pernah memberikan bapak surat iuran palsu dari sekolah. Uangnya kugunakan untuk membeli rokok elektrik yang ternyata rasanya tidak enak. Asapnya terlalu banyak membuatku hampir buta. Akhirnya kujual lagi dengan setengah harga.

Aku pernah mengisi gelas es teh pak Bagus, guru matematika, dengan air keran toilet sekolah saat aku dihukum selama seminggu untuk mengantar makanan pesanannya dari kantin ke ruang guru. Aku sudah minta maaf dan insiden spidol bocor itu juga bahkan bukan ideku. Aku hanya sial saja tertawa paling keras dan jadi yang paling terlihat.

Mungkin aku harus menggambar bulatan kecil juga. Warna hitam. Aku sudah banyak melakukan keburukan, pasti hatiku juga legam tak berbentuk. Menggambarkan keadaan hatiku dan diriku. Manusia jahat.

Nah, aku tidak sejahat itu.

Aku ingat uang jajanku hari kamis itu. Aku ingat karena kurogoh uang selembar itu dari saku celana, baju seragam batik kami tidak memiliki kantung dada. Aku ingat memberikan uang terakhirku hari itu untuk bocah berseragam yang ikut diturunkan oleh supir angkot kami. Naasnya menggunakan moda transportasi kecil memang begini, kita akan sering diturunkan begitu saja, istilahnya dioper ke angkot lain, dan tetap harus membayar ongkos. Aku tahu uang yang diberikan bocah itu ke supir angkot tadi adalah uang terakhirnya, melihat dari betapa pucat wajahnya berdiri di pinggir jalan bersamaku. Jadi kuberikan uangku agar ia bisa naik angkot lain sampai rumah.

Aku juga ingat semua tugas kimia yang kuberikan pada teman-teman sekelas untuk disalin. Itu kebaikan, kan?

Aku kembali mencoba mengingat kebaikan lainnya. Dan yang paling kuingat adalah senyum ibu yang beku di balik bingkai foto di ruang tamu. Semua ibu di dunia ini memang baik, ya? Pasti kalau ibu-ibu mendapat tugas ini, kertas mereka akan seperti kertas milik Selly. Bersih.

Tiba-tiba rasa enggan hinggap entah darimana. Aku beranjak dari kursi belajar ke tempat tidur. Menyumpal kedua lubang telingaku dengan headset dan menyalakan musik. Aku memejamkan mata berusaha tidur. Peduli setan dengan tugas Konseling. Dengan pikiran dipenuhi kertas gambarku yang masih kosong, akupun tertidur.

***

Aku berhasil mengelabui bapak untuk menelpon sekolah dan mengabarkan bahwa aku sakit. Tidak sia-sia subuh tadi aku bangun dan diam-diam memasukkan es batu ke dalam hidung. Pagi harinya temperatur tubuhku cukup hangat untuk membuat bapak mengira bahwa aku tidak enak badan.

Aku malas sekali pergi sekolah hari ini. Tentu saja karena tugas Konseling tidak jelas itu, yang juga belum kuselesaikan. Tapi yang lebih membuatku malas adalah aku tidak mau duduk selama satu jam di kelas mendengarkan dan melihat bentuk-bentuk hati teman sekelasku. Aku tidak mau melihat bentuk hati yang besar, penuh, dan bersih milik teman-temanku yang baik hati dan dermawan, yang hanya akan membuatku merasa buruk akan diriku sendiri. Aku juga tidak mau melihat hati yang kecil, gelap, dan tak berkesan milik teman-temanku berandalan sekolah yang mungkin bisa membuatku menolerir keburukan dan mewajarkan kejelekan.

Lebih dari itu semua, aku tidak mau orang lain tahu seperti apa bentuk hatiku. Aku tidak mau orang-orang bisa melihat pikiranku dan harga diri yang kupasang sendiri. Aku tidak mau orang yang tidak mengenalku menerka-nerka hal yang bahkan tidak kuyakini kebenarannya.

Mengapa kita harus tahu seperti apa bentuk hati kita? Bukankah hati kita adalah objek tak terbatas yang tak bersekat? Tidak ada manusia yang kelam selamanya. Pun tidak ada manusia yang hanya bermandikan cahaya, kita sudah punya makhluk bernama malaikat untuk itu.

Menggambar seperti apa bentuk hati kita adalah imajinasi paling tolol yang pernah kudengar. Aku mungkin tidak tahu banyak hal tapi aku yakin bahwa hati bukan benda pasti. Ia bertumbuh dan ia bersusut. Hatiku bebas. Tanpa definisi. Tanpa deskripsi.


1 comments

  1. Anonim00.56

    What a twist! Suka banget bagian terakhir cerpennya. Build up-nya juga sabar, mantul lah pokoknya.

    BalasHapus