Mencintaimu Sampai ke Bulan





Saya suka sekali dengan frasa "I love you to the moon and back" dan menggunakannya secara berlebihan kepada sahabat-sahabat saya di tahun-tahun awal kuliah. Kenapa saya menggunakannya kepada sahabat-sahabat saya? Ya, karena saya betul-betul menyayangi mereka, tidak akan membiarkan hal buruk menimpa mereka, atau sesederhana saya tidak mau melihat orang lain menjelek-jelekkan mereka di depan saya. Saya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk dan dengan mereka. Jadi, saya rasa mengatakan bahwa saya mencintai mereka sejauh jarak ke bulan dan kembali lagi ke bumi tampaknya tidak terlalu berlebihan.

Lalu, saya bertemu dengan seorang laki-laki, yang kemudian juga saya limpahkan frasa kesukaan saya ini. Ditambah "to the infinity and beyond" karena, maafkan saya, perasaan cintanya pada waktu itu memang sebegitu besar. Saya merasa saya hanya benar-benar merasakan cinta ketika saya bisa memberikannya. Jadilah, saya mengucapkan frasa ini berulang-ulang pada siapa saja yang saya sayangi sungguh-sungguh. Karena kadang memang orang lain butuh tahu bahwa kita menyayangi mereka sejauh itu.

"I love you to the moon and back. To the infinity and beyond."
Alasan lain saya menyukai frasa ini adalah cerita di baliknya. Sebelum kuliah, saya suka sekali menulis dan membaca di salah satu platform blog remaja. Di sana saya menemukan cerita arti dari "I love you to the moon and back". Dikatakan di cerita tersebut bahwa dalam satu hari jantung manusia dapat memompa energi cukup besar untuk sebuah truk berjalan sejauh sekian kilometer. Hitung punya hitung, apabila kita menjumlahkan energi yang dipompa jantung kita selama katakanlah 70 tahun maka energi tersebut dapat mengantarkan sebuah truk ke bulan dan kembali lagi ke bumi. Jadi, mengatakan "I love you to the moon and back" sama saja dengan mengatakan bahwa kita mencintai seseorang selama hidup kita.

Manis sekali. Begitu waktu itu saya berfikir. Cara yang manis untuk memberitahu seseorang bahwa kita akan menyayangi mereka selama hidup kita. Sejak saat itu frasa tersebut menjadi frasa kesukaan saya, saya gunakan dimanapun, bahkan saya menempelnya di dinding kamar kos. Karena, bayangkan saja, perjalanan ke bulan dan kembali ke bumi sudah jelas perjalanan penuh perjuangan dan waktu. Lalu apa yang lebih indah daripada memberikan perjuangan dan waktu untuk orang-orang yang benar kita sayang? Tidak ada, bukan?

Meskipun kira-kira dua tahun kemudian saat saya sedang berjalan-jalan di sebuah toko buku di salah satu mall di Jogja, saya lalu menyadari bahwa cerita yang saya baca di platform itu mungkin hanya isapan jempol belaka. Saya sedang melihat-lihat buku cerita anak-anak ketika kemudian membuka sebuah buku berjudul "Guess How Much I Love You". Di sana ada seekor kelinci, bapak kelinci, yang mengatakan pada anaknya kira-kira "I love you to the moon and back"


karena memang, tentu saja, jarak dari bumi ke bulan bukanlah jarak yang sebentar.

Saya lalu tergoda untuk meneliti lebih jauh siapa sebenarnya yang pertama kali mengucapkan frasa ini. Tapi lalu saya mengurungkan niat. Kenapa pula saya harus tahu persis bagaimana sebuah frasa bermula? Bahasa kan memang berubah setiap saat, diucapkan dan ditiru setiap hari. Apa pedulinya kalau ternyata frasa itu muncul dari sebuah buku bergambar dan bukan dari fakta ilmiah bahwa jantung kita bisa membuat sebuah truk pergi ke bulan?

Mengetahui sebuah fakta di balik satu hal memang baik. Kebenaran adalah satu hal yang bisa membuat kita bebas. Namun setelah kita mengetahui kebenaran, lalu apakah berarti kita tidak bisa menciptakan fiksi yang memperindah sebuah objek? Pada dunia yang menghamba kebenaran, keindahan menjadi sesuatu yang nyaris tidak bisa ditemukan. Semua orang berlomba menjadi yang paling benar sementara hanya sedikit orang yang menikmati keindahan.

Saya mengimani bahwa penting bagi kita untuk tahu kebenaran dan tidak terseret romantika masal. Namun, bukan berarti pula saya harus hidup dalam dunia faktoid yang membosankan, kan?

Oh, dan saya kira mencintai seseorang sampai ke bulan tampaknya terlalu lama dan melelahkan. Itulah alasan saya sudah mulai jarang menggunakan frasa tersebut. Saya menyadari bahwa mencintai terkadang cukup hanya dengan tinggal di bumi. Menyelami palung terdalam, berselancar di lautan terbuka, menaiki pohon kapas tinggi di pinggir lapangan, merasakan hujan di depan halte bis. Lihat kan? Bahkan mencintai di bumi saja sudah luar biasa. Mencintai sampai mengelilingi bumi saja sudah cukup. Menyenangkan.

6 comments

  1. Saya juga suka sekali dengan frasa ini. Terlebih ketika saya membacakan buku Guess How Much I Love You pada anak saya, saya selalu menitikkan air mata haru :')

    Terima kasih telah berbagi cerita mengenai frasa manis ini ya Mbak.

    Salam,
    Amalina

    BalasHapus
  2. Anonim14.28

    Bagus.saya juga suka frasa itu karena teman2 saya suka mengucapkan hal itu ke saya. Jadi ketika mengucapkan frasa itu langsung terbayang temen2 kuliah. Lanjutkan author! Ditunggu karya berikutnya��

    BalasHapus
  3. I Love you to the moon and back, jadi inget lagunya Savage Garden, To the Moon and Back 😂😁

    BalasHapus
  4. wah baru tau tentang jantung bisa memompa energi untuk menggerakkan truk.. Heheh. Kudulu sering denger frasa ini tapi ga sering kupakai sih. Habis kayanya terlalu lebay gitu buatku..hehehe
    maksudku, aku sepertinya tidak sebesar itu mencintai teman-temanku. Jadi aku ga mau mengucapkan hal yang buatku ga sebesar itu kulakukan 🙈🙈🙈

    BalasHapus
  5. Omaigaaat.. That book! Guess How Much I Love You. Favorit ��
    Anyway, meskipun frasa ini sempat hype, I've never used it, even once. Like, did I cave in or something? Hehe.

    BalasHapus
  6. I love you to the moon and never back he he he

    BalasHapus