Setelah 4 Season dari 13 Reasons Why




"Hey.. It's Hannah, Hannah Baker."

Banyak orang yang akan merasa familiar dengan kalimat tersebut. 13 Reasons Why merupakan salah satu serial tv yang cukup fenomenal pada masanya. Serial yang pertama kali ditayangkan pada 2017 ini benar-benar bisa dibilang berhasil menjadi perbincangan banyak orang, termasuk di Indonesia.

Saya pertama kali menonton serial ini di awal tahun 2018, di waktu-waktu senggang sebelum wisuda. Saya melihat iklannya di story akun Netflix di instagram. Hmm.. Seorang gadis bunuh diri dan meninggalkan 13 kaset yang berisi 13 alasan kenapa dia bunuh diri. Sebuah konsep cerita yang sangat kuat. Lanjutlah saya mulai menonton serial ini dan langsung jatuh hati!

13 Reasons Why season pertama merupakan tipe serial yang tidak bisa berhenti untuk ditonton. Tentu saja karena di tiap akhir episode kita akan selalu dibuat penasaran dengan siapa yang akan disebut di episode selanjutnya, apa yang sudah dilakukan manusia malang itu sampai harus disebut dalam catatan bunuh diri seorang gadis muda?

13 Reasons Why season 1 benar-benar berpusat pada cerita tentang Hannah Baker yang mengakhiri hidupnya dan merekam 13 alasan. 13 kaset tersebut menceritakan 13 orang yang menjadi alasan ia bunuh diri dengan tragis. Serial ini, saya rasa, dibuat untuk meningkatkan kesadaran orang-orang akan banyak isu-isu berat dalam masyarakat khususnya remaja. Isu-isu yang bisa dibilang isu gelap ini mencakup kesehatan mental, perundungan, orientasi seksual, kekerasan, dan penyalahgunaan obat-obatan. 13 Reasons Why benar-benar berusaha keras untuk mengangkat isu ini ke permukaan. Semua adegan mencakup adegan kekerasan dan bahkan adegan bunuh diri secara eksplisit diperlihatkan dengan gamblang. Jujur saja, hari-hari setelah menyelesaikan season 1 saya dihantui mimpi buruk berkepanjangan.

Kemudian, season 2 tayang. Karakter-karakter yang kuat yang dibangun selama season 1 benar-benar membuat saya merasa harus melanjutkan menonton season 2, yang berpusat pada cerita tentang pengadilan kasus Hannah Baker. Orangtua Hannah menuntut sekolah yang mereka anggap telah gagal dalam melindungi anak perempuannya dari perundungan. Season ini, isu-isu yang ditampilkan masih sama. Beberapa adegan juga semakin eksplisit tapi cerita dititikberatkan pada ketidakadilan sistem hukum pada kasus-kasus pelecehan seksual.

Sebagai orang yang menyukai proses peradilan, saya tahu bahwa season 2 tentunya menjadi season kesukaan saya. Di season ini, cukup banyak adegan dalam ruang pengadilan yang kemudian mempertontonkan kejomplangan dalam tiap kasus pelecehan seksual. Singkatnya, season 2 adalah season yang luar biasa.

Dan seharusnya 13 Reasons Why cukup sampai di season 2 saja.

Season 3 benar-benar bencana, setidaknya bagi saya. Dengan hilangnya Hannah Baker secara total dari lingkaran cerita maka bisa dibilang ruh serial ini pun juga menguap. Season 3 berusaha mengganti Hannah dengan sosok baru, seorang anak pindahan dari Inggris, bernama Ani yang.. Ugh.

Narasi yang dilakukan Ani betul-betul tidak bisa dinikmati. Sebagai anak baru, saya terus-terusan terganggu karena Ani kemudian tiba-tiba saja menjadi pusat cerita, dan pusat tokoh-tokoh lainnya yang tentu saja konyol karena tokoh lainnya sudah melewati begitu banyak hal bersama-sama di dua season awal. Kedekatan yang seharusnya dimiliki oleh Ani dengan tokoh yang lain benar-benar tidak bisa dirasakan, yang kemudian membuat narasi yang dilakukan terasa kering dan tidak cocok dengan alur cerita.

Ternyata, yang merasakan kejanggalan ini juga bukan saya seorang diri. Banyak sekali penonton 13 Reasons Why yang kemudian merasa bahwa tokoh Ani tidak memiliki poin untuk dihadirkan di cerita. Grace Saif, aktris yang memerankan Ani, sampai menghapus semua fotonya di akun instagram akibat banyaknya kritik dan komentar buruk yang ia terima berkaitan dengan tokoh yang ia mainkan. 13 Reasons Why benar-benar harus menerima banyak pelajaran pahit dari season 3.

Yang kemudian membuat saya memberanikan diri menonton season final, season 4. Saya mengira bahwa ulasan negatif yang diterima selama season 3 akan memberikan beberapa perbaikan pada season final dan syukurnya harapan saya benar.

Cerita tidak lagi dinarasikan oleh Ani, melainkan oleh Clay, salah satu tokoh sentral. Ani bahkan tidak lagi menjadi pusat cerita dan hanya menjadi tokoh sampingan saja. Meskipun, tentu saja, konsep cerita yang dibawa cenderung membosankan dan tidak lagi menarik. Saya bahkan menonton episode terakhir dengan sibuk memainkan ponsel di tangan.

Beberapa detail yang cukup mengganggu di season final adalah, lagi-lagi, kedekatan di antara tokoh Ani dengan tokoh-tokoh lainnya. Saya tidak tahu apa yang keliru tapi membandingkan kedekatan antartokoh di dua season pertama dengan dua season terakhir bukanlah hal yang sulit karena, oh man, perbedaannya terlihat sekali. Belum lagi cerita selalu memaksakan tokoh-tokoh baru yang tiba-tiba saja muncul dan menjadi satu lingkar pertemanan. Misalnya, Charlie, benar-benar.. Awalnya saya kira Charlie adalah kakaknya Alex dan bukan random dude yang tiba-tiba saja ada di dalam pesta penyambutan salah satu anggota geng yang baru pulang dari pusat rehab. Pengenalan tiba-tiba tokoh yang dekat dengan lingkaran pertemenan ini benar-benar mengganggu saya.

Detail lainnya adalah, saya tidak merasa ada satu topik atau cerita yang ingin disuguhkan oleh season final. Saya menyadari bahwa produsernya mungkin ingin membungkus serial tv ini dengan aliran cerita yang tragis dan emosional, mengingat perjalanan dan perkembangan tokoh-tokohnya sejak season 1. Sayangnya, bahkan dengan kematian salah satu tokoh pun, akhir dari season final ini, menurut saya, tidak terselamatkan. Sejujurnya, yang membuat season final ini cukup menghibur untuk ditonton adalah perjalanan orientasi seksual Alex dan Charlie yang hmm cukup manis dan dipenuhi dengan aww  moments.

Meskipun demikian, saya tetap harus memberikan kredit bagi konsep cerita awal 13 Reasons Why yang betul-betul menarik dan membuka banyak pembahasan mengenai isu-isu yang kelam. Bahkan hingga kini, saya masih merasakan kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh dari season 1 dan 2, yang kesemuanya memberikan kerja akting yang luar biasa.

Dari serial ini saya belajar bahwa perundungan adalah sesuatu yang kompleks dan bahwa tekanan sosial untuk ikut dalam perundungan bukanlah hal enteng yang bisa diabaikan dengan mudah. Terkadang tidak ikut dalam perundungan juga bukanlah hal yang benar untuk dilakukan kalau kita bahkan hanya diam saja saat melihat perundungan itu terjadi. Saya juga belajar untuk berani 'merasakan momen' karena banyak dari kita tidak bisa merasakan hal-hal yang sebenarnya bisa kita rasakan hanya karena kita terlalu takut untuk merasakannya. Banyak dari kita yang takut untuk mengejar kebahagiaan hanya karena kita takut kita akan merasakan kesedihan.

Oh ya, selain beberapa nilai-nilai hidup, 13 Reasons Why juga punya daftar soundtrack yang keren-keren.

Akhir kata, tentu saja bukan saya namanya kalau tidak terkesan dengan quote-quote yang memorable dari rangkaian serial ini. Ada banyak kalimat-kalimat yang bisa menjadi renungan atau sekadar motivasi bagi kita, meskipun tentu saja karena drama berat yang dipresentasikannya, 13 Reasons Why tidak punya banyak ungkapan yang bisa memotivasi. Nevertheless, inilah beberapa ungkapan yang tidak bisa saya lupa dari 13 Reasons Why:

"We can have the best intention, and still fall short."
"You can't love someone back to life."
"You can try."
"Come see me if you decide to give a shit."
"Sometimes things just happen to you. They just happen. You can’t help it. But it’s what you do next that counts."
"When the house is on fire, do you discuss the fire or get out of the goddamn house?"
"Nothing's that worth anything comes without pain."
"Keeping it in, that is not brave. Feeling the pain, facing it, that takes courage."
"People need to be able to speak before they can shout."
"Happiness just makes you feel unhappy."
"If you love someone, you're going to lose them. Sometime, somehow."
"But you love anyway."
"Yes, we love anyway."
"No matter what you do, people still see you the way they want to."
"Some of you cared. None of you cared enough."

1 comments