august

Mungkin memang dia bukan tipe yang seperti itu..”

Merah melanjutkan mengusapkan busa sabun ke bagian atas lengannya. Ritual mandi pagi dan sore memang sejatinya bukan hanya tentang membersihkan badan, tapi juga menjadi salah satu waktu sendirian yang mengizinkannya untuk berpikir, tentang apa saja, seringnya tentang hal-hal fundamental yang krusial bagi tatanan alam semesta.

Merah sedang jatuh cinta. Sudah lama. Merah jatuh cinta pada teman dekatnya, sahabatnya sejak awal kuliah, Biru. Apakah Biru juga merasakan jatuh yang sama? Mungkin, Iya, katanya. Tapi Merah selalu tidak yakin.

Tentu saja. Masak iya yang Biru lakukan itu namanya cinta?”

Merah pernah dicintai laki-laki dengan sangat sangat. Pesan selamat pagi, ucapan mimpi indah sebelum tidur, panggilan telpon setiap hari, desakan untuk ditemani. Biru tidak memberikan itu semua. Biru tidak pernah mengantarnya pulang, tidak memeluknya tiap kali mereka berpisah sebentar untuk mencari kudapan, tidak memandangnya dengan tatapan pemain-pemain film di serial-serial komedi romantis. Iya, masak yang seperti itu namanya cinta?

Merah menggosok-gosok leher hingga ke belakang telinga. Busa sabun putih mengalir melalui bahunya menuju punggung. Wangi antiseptik sabun menyeruak memenuhi ruang kubus itu. Jari-jari Merah membersihkan lekukan-lekukan di daun telinga. Kedua matanya masih menerawang jauh, berpikir.

“Tapi kan aku sudah pernah bilang mau dibegitukan!”

“Yaa.. Makanya kan, Biru bukan tipe pecinta yang seperti itu.”

Merah mengambil segayung penuh air dari bak mandi. Diguyurnya tubuh berbalut busa putih. Segarnya sapuan air membangunkan setiap pori-pori dikulitnya yang telanjang. Sekali. Dua kali. Ahh.. Segarnya. Air dingin memang bagian paling menyenangkan dari kegiatan mandi ini, selain wangi busa sabun yang menenangkan, tentunya. Biru bodoh pasti sudah mengerang dan menggigil kalau merasakan air sedingin ini. Dia memang bodoh. Dan idiot. Menyebalkan.

Bibir Merah mengerucut, kesal dengan pikirannya sendiri. Biru memang menyebalkan. Ia tidak bisa mencintai Merah sebagaimana yang Merah inginkan. Atau mungkin tidak mau. Entahlah. Merah sudah pernah bilang berkali-kali apa yang Merah mau, tapi tetap saja. Jangankan memberikan perlakuan seperti yang Merah pernah dapatkan dulu dulu, pesan Merah saja seringkali dibiarkan tidak terbalas, dibalas lagi nanti, berpuluh menit kemudian dengan bahasan yang sudah berbeda.

“Memangnya aku layanan pelanggan, dihubungi hanya ketika dibutuhkan?”

Sekali dua kali melayangkan protes, Biru tetap seperti itu dan Merah menyerah. Yaa sudah, kalau memang maunya begitu. Biar saja.

Merah mengambil segayung penuh air dan mengguyur wajahnya. Diambilnya sabun pencuci muka yang bertengger di rak sabun. Merah menekan bagian tabung hingga losion berwarna susu keluar ke telapak tangannya. Merah mengusap-usap telapak tangan hingga losion tadi berubah menjadi gumpalan busa. Dengan lembut disapukannya busa tersebut ke kedua pipi.

Merah memikirkan degup jantungnya setiap kali ia menghabiskan waktu bersama Biru. Ada. Nyata. Tapi tidak banyak. Atau mungkin banyak tapi tidak setiap saat. Terlebih saat Biru tidak ada dan tidak menghubunginya, bekerja atau bermain gim atau bersosialisasi, katanya. Merah tidak merasakan dipeluk oleh udara hangat setiap saat, dirangkul oleh kesadaran bahwa diluar sana ada orang yang mencintainya sungguh-sungguh.

Biru tentu saja memberikan kebahagiaan dan degup gugup, dan kepakan sayap kupu-kupu di dasar perut, tapi tidak setiap hari, tidak setiap saat. Cinta itu seperti kopi. Mungkin Biru menghemat kasih sayangnya, mencicil cintanya sedikit demi sedikit. Jika diminum saat sedang hangat maka ia akan cepat habis. Mungkin Biru mau romansa mereka tetap nyalang. Biru mau romansa yang dewasa, yang tidak mendesak dan menguasa. Jika diminum sedikit demi sedikit maka ia akan cepat dingin. Kenapa sih kita harus dewasa?

Busa di kedua pipi, hidung, dagu, dan dahi Merah sudah menghilang. Dengan air, dibasuhnya sisa-sisa busa dari kulit wajah. Ritual terakhir sebelum menyelesaikan kegiatan mandi harian.

Merah menjangkau handuk ungu bergambar putri es kesukaannya, hadiah dari salah satu teman di kampus dulu. Dengan hati-hati diusapkannya permukaan handuk ke lengan, leher, perut. Merah menutup wajahnya dengan handuk. Ditekan-tekannya permukaan handuk agar air di wajahnya surut.

“Apa kamu mau menukar Biru untuk laki-laki lain yang bisa mencintaimu sebagaimana yang kamu mau?”

Lalu Merah memikirkan pagi itu di Bandung. Saat mereka berdua kebingungan mencari-cari makanan pagi hari. Soto Betawi, bubur ayam, nasi rames, tidak mau. Setelah berjalan beberapa lama, Biru menarik perhatian Merah kepada plang besar berwarna merah di sisi jalan yang mereka lalui, sebuah retail makanan cepat saji ternama. Mau makan itu? Merah memalingkan wajahnya. Mau? Merah memandang wajah Biru dan tahu jawabannya bahkan tanpa ia perlu berbicara. Mereka sama-sama tertawa kecil, menyadari bahwa mereka mungkin akan mati muda karena terlalu banyak makan makanan cepat saji. Dan dalam tawa itu, dengan kaki yang masih berjalan, tubuh mereka saling mendekat. Tangan Biru merangkul pinggang Merah. Cepat.

Dan sekejap saja bukan Bandung rasanya tanah yang sedang Merah pijak. Mungkin Praha. Atau Anatolia. Dingin dan berkabut dengan angin yang menerbangkan dedaunan kuning keemasan. Dan mereka tidak di sana. Mereka ada di salah satu film romantis tentang wanita dan laki-laki yang saling mencari dan menemukan. Mungkin dengan lagu Laughing On the Outside mengalun di pelataran sementara mereka berdua berjalan memasuki restoran cepat saji yang akan mengantarkan mereka berdua pada kematian muda.

Lalu Merah ingat malam itu di kereta antar kota Bandung. Merajuknya untuk kali pertama dan telpon dari Biru. Jangan marah, aku takut. Aku takut sayang kamu berkurang.

Lalu Merah ingat duduk tinggi di atas bahu Biru. Tertawa-tawa sekaligus berusaha tidak bergerak agar mereka berdua tidak jatuh dan patah leher.

Lalu Merah ingat berjalan di terowongan penyebrangan, mengoceh tanpa henti entah tentang apa saat Biru mengusap pipinya pelan, menghentikan segala rupa kalimat omong kosong yang meluncur dari bibirnya.

Lalu Merah ingat pagi-pagi buta sebelum pergantian tahun, saat ia tak bisa pulang karena kamarnya terkunci. Kita mungkin saja akan berakhir mati besok pagi, bagaimana? Dan Merah mengangguk. Mengangguk pada semua petualangan dan tantangan dan kemungkinan mereka ditemukan tewas mengenaskan hari itu.

Lalu Merah ingat malam dingin di dalam bus kota di Jakarta saat mereka berdua berdiri berdekatan mendengarkan dan menyanyikan lagu lawas dari penyanyi legendaris negeri seberang pelan-pelan agar tidak mendapatkan lirikan sinis atau bahkan teguran dari sesama penumpang bus.

Lalu Merah ingat banjir bandang pertama yang menghadang mereka berdua di depan pagar. Banjir yang dimaki banyak manusia Jakarta hari itu tapi yang memberikan tambahan 24 jam waktu bagi Merah untuk tetap bersama Biru.

Lalu Merah ingat saat ia panik kehilangan Biru di perpustakaan besar berpuluh-puluh lantai. Merah ingat wajah dan tawa Biru yang menantinya di depan jalan. Merah ingat pelukan dan hangat lengannya di punggung Merah. Merah ingat betapa ia merasakan rasa aman yang tidak biasa.

Lalu Merah ingat nyeri yang menusuk di perut kirinya karena tertawa tak henti-henti, bermain kuis daring di pagi hari sebelum makan nasi goreng pedas yang enak sekali.

Lalu Merah ingat lembut bibir Biru yang tak sengaja dicecapnya sore itu, di depan laptop yang menayangkan film roman legendaris yang entah sudah berapa kali Merah dan Biru tonton.

Lalu Merah ingat kalimat Biru senja itu, air yang memadamkan api membakar di pikirannya. Ini tidak sepadan dengan rasa sakitmu.

Lalu Merah ingat setiap cerita yang pernah Biru kisahkan, sejarah Ratu Viktoria dan Abdul, asal muasal kereta listrik, dan bendera-bendera dunia.

Lalu Merah ingat jalan-jalan yang mereka lalui berdua: aspal keras nan panas, lubang dengan genangan air hujan, tanah berdebu berbatu kerikil, balok-balok trotoar, rumput dengan bunga-bunga Aubrieta.

Lalu Merah ingat marahnya, makian rahasianya di malam-malam dingin saat kepalanya membara panas, lelahnya, tawanya, sedihnya, semangatnya, kesalnya, sayangnya pada Biru.

Lalu Merah ingat tawa geli Biru. Mata cemasnya, mata bergairahnya, ngantuknya, tawa lepasnya, tawa cerianya, jingkrakan senangnya, lenguhan kesalnya.

Lalu Merah ingat Biru.

 

Merah menurunkan handuk dari wajahnya yang kini lembab dan bersih. Suara-suara pagi mulai terdengar. Kokok ayam, desiran angin, perbincangan di tukang sayur yang teredam. Dan rasa rambut kaku Biru di telapak tangan Merah. Jangan dipegang, ini ada minyak rambutnya! Dan kernyitan memprotes dari wajah Biru.

“Apa kamu mau menukar Biru untuk laki-laki lain yang bisa mencintaimu sebagaimana yang kamu mau?”

 

Bahkan di semesta paralel, alam yang lain, kehidupan yang akan datangpun, Merah tahu jawabannya seterang sinar matahari pagi yang menyusup melalui kisi-kisi atas pintu kamar mandinya pagi itu.

0 comments