Kuliah HI Keren, Kak!




"Kamu mau kuliah jurusan apa nanti?"
"HI, Hubungan Internasional."
"Karena keren ya? Ada internasionalnya."
Saya mengernyitkan dahi, saya kira seorang mahasiswa cara berpikirnya bisa lebih dari itu, kan?
"Bukan, karena pengen jadi duta besar."

Percakapan ini terjadi saat malam sedang gerah-gerahnya di musim kemarau delapan tahun lalu. Saat itu saya baru saja menjalani bulan keenam dari gap year yang saya habiskan di Pare, Kediri. Dari beberapa teman, saya termasuk ke dalam sedikit yang sudah yakin mau kuliah jurusan apa. Bukan karena keren, bukan karena embel-embel internasional, tapi karena saya, waktu itu, mau jadi duta besar. Sekarang sih juga masih mau, sepertinya sampai nanti punya anak cucu pun cita-cita saya menjadi duta besar tidak akan berubah :)

Di tulisan ini saya bukan siapa-siapa. Bukan diplomat muda. Bukan pegawai multinational corporation. Bukan penerima beasiswa pemerintah. Bukan siapa-siapa. Saya cuma seorang lulusan HI, yang masih berjibaku di papan terbawah dunia profesional, yang mau sedikit 'membela' jurusan yang saya ambil, yang syukurnya juga saya cintai.

Hal ini dipicu beberapa postingan teman-teman sejawat saya. Beberapa dengan jenakanya menyebarkan kebenaran pahit kami para sarjana HI seperti "Kuliah HI itu bagus banget prospeknya buat kalian yang mau duluan mengalami quarterlife crisis. Apalagi kalau mau ngerasain punya skill yang gak jelas apa dan gak tau mau dijual kemana atau kerja apa." atau "Ini yang pada minat kuliah di HI apa ngga pernah baca lulusan HI pada sambat cari kerja di twitter?"

Jahat sih, tapi benar.

Dan karena saya di sini menulis sebagai orang yang memang bukan siapa-siapa, saya tentunya tidak akan memberikan counter argument tentang betapa masuk HI itu sebenarnya awal masa depan yang menjanjikan atau tentang bagaimana jurusan itu tidak akan berpengaruh terhadap kesuksesan karena kenyataannya memang HAHAHA WOY SUSAH BANGET CARI KERJA TUH BUAT LULUSAN HI!!

Bahkan sekarang pekerjaan saya pun, sedihnya, bukan di bidang yang saya pelajari dulu. Alah.. Santai lah, banyak kok lulusan HI yang kerjanya malah di media atau di bank. Ya, memang. Tapi pekerjaan saya ini bisa saya lakukan tanpa harus belajar dan menulis skripsi di HI dulu. Pekerjaan yang kasarnya saya ngga kuliah di HI pun bisa mengerjakan ini.

Sejujurnya, waktu sekolah menengah pertama saya kepinginnya sih jadi pengacara tapi tidak diizinkan oleh orangtua untuk kuliah di jurusan Hukum. Kelas 11 SMA saya presentasi tentang Perserikatan Bangsa Bangsa di kelas Pendidikan Kewarganegaraan. Salah satu teman saya waktu itu bertanya tentang posisi Indonesia di mata dunia setelah Indonesia memutuskan keluar dari PBB di tahun 1965. Teman saya secara implisit mengatakan bahwa nilai Indonesia di mata dunia, khususnya PBB, jatuh berkat insiden keanggotaan itu. Anehnya, saya begitu bersemangat sekali menjawab dan menjelaskan mengapa profil Indonesia di mata PBB tetap baik dan tidak terpengaruh oleh keputusan Indonesia keluar dari PBB tersebut, sebagai buktinya saya juga menjelaskan pada seisi kelas bahwa Indonesia dipilih sebagai anggota Dewan Keamanan Tidak Tetap 1974-1975. Selesai kelas tersebut, saya dipuji oleh guru PKn dan keluar dari kelas saya lalu yakin apa yang ingin saya pelajari setelah lulus sekolah nanti. Akhirnya setelah negosiasi alot dengan orangtua, saya lalu dibolehkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, ilmu yang kata ayah saya 'tidak praktis dan tidak jelas'.
"Kenapa sih kamu ngga kuliah farmasi aja biar lulus kuliah bisa kerja di perusahaan farmasi?"

Singkat cerita saya lalu menghabiskan sebulan penuh melakukan riset jurusan. Saya tidak suka angka jadi saya menghindari setiap universitas yang HI-nya punya mata kuliah statistika. Saya juga mencari universitas yang menyediakan mata kuliah Politik Rusia, karena saya suka Rusia, waktu itu. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (sebenarnya pilihan pertama ya UI tapi yaaa..)

Sebelum kuliah di mulai saya suka sekali membaca blog-blog lulusan HI, lebih-lebih yang sekarang sudah jadi diplomat. Ada satu blog milik lulusan HI UGM yang pada waktu saya baca dia sudah gagal tes Kemlu dua kali dan akhirnya memilih untuk bekerja di sebuah bank. Saya bahkan hingga saat ini masih ingat jelas potongan tulisan di blognya. "Kalau akhirnya hanya untuk bekerja di bank, untuk apa saya kuliah Hubungan Internasional? Kenapa saya tidak kuliah ekonomi saja? Kalau akhirnya hanya bekerja sebagai humas di perusahaan, untuk apa teman saya susah payah menulis skripsi tentang perang timur tengah? Kenapa dia tidak kuliah Public Relations saja?"

Saya belum pernah berpikiran seperti itu. Bagi saya bisa kuliah dan belajar di jurusan Hubungan Internasional adalah rencana saya (yang dirahmati Tuhan) yang menjadikan saya pribadi yang jauh, jauh lebih baik, terlepas dimanapun saya bekerja sekarang dan nanti. Karena waktu itu memang niat saya kuliah bukan untuk mencari kerja, tapi mencari ilmu.

Klise. Memang. Tapi karena pemikiran dasar yang saya tanamkan sejak awal mula saya menginjakkan kaki di gedung kuliah itulah yang kemudian membuat saya tidak pernah menyesali empat tahun yang saya habiskan di kampus. Apa pernah saya berpikir 'what if'? Tentu saja. Coba yaa kalau jadi kuliah di Hukum pasti sekarang saya sudah kerja di biro hukum mentereng di ibukota. Coba yaa kalau saya kuliah di Sastra Inggris pasti sekarang sudah di Cambridge untuk master TESOL. Tapi apa saya kemudian pernah berkata "Nyesel banget masuk HI"? Tidak. Kenapa?

Pertama, belajar HI melatih saya untuk memiliki pikiran yang terbuka dan kritis.

Kuliah perdana Pengantar Ilmu Hubungan Internasional tidak akan pernah saya lupa. Di awal kelas, dosen saya bertanya "Kenapa kalian masuk HI?" dan dosen saya ternyata sudah menyiapkan presentasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di mulai dari alasan "anak debat dan pernah ikut pertukaran pelajar" lalu lanjut ke "ditolak Kedokteran" (beberapa teman sekelas saya tertawa pelan-pelan mendengar alasan kedua ini) lalu lanjut ke "karena keren". Setelahnya, dosen saya lalu mulai masuk pada materi kuliah. Beliau mulai dengan menjelaskan tentang hakikat kebenaran. Kenapa sebuah kebenaran disebut kebenaran? Kalau ada tujuh orang yang melihat sapi dan menceritakan tujuh hal yang berbeda, mana yang bisa disebut kebenaran? Lalu dosen saya memperlihatkan sebuah kartun yang bergambar seorang anak sedang ditodong poros senjata, padahal aslinya gambar tersebut adalah gambar anak yang sedang tertawa bermain ranting kayu. Dosen saya lalu menjelaskan bahwa dalam belajar HI, kami harus skeptis. Kami tidak boleh menelan mentah-mentah setiap informasi yang kami baca. Kami harus mempertanyakan sesuatu sampai kami yakin, atau tidak yakin, yang jelas jangan pernah berhenti bertanya dan jangan pernah puas dengan jawabannya. Kami juga harus berpikiran terbuka karena pikiran yang tertutup tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun.

Di akhir kelas, dosen saya menunjukkan sebuah meme dengan tulisan "Your mind is like a parachute, it only works when it opens." Kuliah perdana tersebut benar-benar mengubah cara pandang saya akan segala sesuatu. Dan bagi saya memang betul. Kalau kita belajar HI dan tidak memiliki pandangan terbuka, kita tidak akan paham apa itu sosialisme dan komunisme dan mengapa itu berbahaya, kita tidak akan paham apa itu kesetaraan gender dan apa itu transseksual kalau kita benci lesbian dan gay, kita tidak akan paham konflik imigran kalau kita takut pada pendatang, kita tidak akan memecahkan masalah apa-apa kalau kita sudah menganggap setiap hal asing yang kita temui adalah sumber masalah. Dan pandangan inilah, bagi saya, yang tidak akan saya dapatkan kalau saya tidak kuliah di Hubungan Internasional.

Anak HI itu memang liberal-liberal pemikirannya dan karena itu juga (biasanya) anak HI akan merasa paling klik mengobrol dengan anak HI lainnya.



Kedua, belajar HI melatih saya menerima perbedaan.

Karena belajar HI membuat saya terlatih berpikiran terbuka, maka sudah seyogyanya saya juga lebih menerima perbedaan. Mboten nggumunan. Well, itu dua hal yang berbeda sih memang. Saya merasa belajar banyak hal dari berbagai sudut dunia membuat saya tahu bahwa diversitas adalah keniscayaan. Saya juga belajar bahwa di dunia ini ada begitu banyak perbedaan dan sebenarnya perbedaan ini adalah sumber masalah dan juga sumber rahmat. Dari dalam kelas-kelas saya belajar bahwa Tuhan itu banyak macamnya. Tuhan yang berbeda menimbulkan konflik berkepanjangan. Itu lumrah, wajar. Manusia memang hanya takut pada hal-hal yang tidak bisa mereka pahami. Tuhannya sudah samapun ternyata alirannya berbeda dan perang berpuluh tahun bisa muncul hanya karena perbedaan ini.

Hubungan Internasional juga, saya percaya, adalah jurusan yang paling banyak memberikan eksposur global. Istilah kerennya sih hanya yang mempelajari dunia yang akan bisa menaklukan dunia hahaha. Mahasiswa-mahasiswa di HI, boleh dibilang, membiarkan kepala mereka berada di atas awan. Setiap hari yang mereka pantau adalah berita luar negeri. Apa yang dikatakan Trump hari ini? Terobosan apa yang dilakukan Ardern hari ini? Sebagian melakukannya karena memang menyukai membaca politik internasional, sebagian karena tuntutan tugas. Apapun alasannya, kebiasaan membaca dan dekat dengan hal-hal seperti ini membuat anak-anak HI menjadi terkesan 'ambisius' karena punya mimpi-mimpi besar. Kalaupun tidak berhasrat untuk bermimpi besar, setidaknya berhasrat untuk melihat negara lain setahun sekali.

Banyak hal baru terjadi di sekeliling dunia. Paradoxically, tidak ada hal yang benar-benar baru. Karena itulah kemudian anak HI biasanya sulit untuk dibuat tercengang. Karena yaa itu tadi.. Mereka, atau saya deh supaya tidak dianggap secara paksa menyeret anak HI lainnya, secara penuh dan sadar memahami bahwa dunia itu luas dan tak terbatas. Kemunculan satu dua hal baru tidak akan lantas membuat saya jatuh dari kursi saya duduk.

Saya ingat kelas Seminar HI dimana kita dipersiapkan untuk menulis proposal skrispi. Wow, dari 30 mahasiswa yang ada di kelas tersebut, semuanya membawa topik dan permasalahan yang berbeda dari seluruh dunia. Luar biasa. Ternyata dunia kita memang bermasalah. Dan untung sekali kan kita punya ribuan sarjana HI yang bisa mengidentifikasi masalah tersebut! (tapi menyelesaikannya, hmm tunggu dulu hahaha)

Ketiga, belajar HI melatih saya untuk menjadi serba bisa dan serba siap.

Saya ingat mengobrol dengan salah satu teman saya di klub debat di tahun pertama kuliah. Dia baru saja mengikuti Model United Nations pertamanya di akhir minggu waktu itu.

"Kayak gimana rasanya ngewakilin negara lain di MUN?"
"Nah, man.. I think the whole point of being IR student is pretending that you know everything when you know nothing!"

Dan demikianlah teman saya merangkum empat tahun jungkir balik belajar HI dalam satu kalimat efektif.

Dan ini benar sekali. Kerap kali di sidang diplomatik saya harus mewakili kepentingan satu negara yang menginjak tanahnya saja saya belum pernah! Nama presidennya pun saya baru tahu saat harus riset untuk menulis position paper. Lalu saya harus berdandan rapih di ruang sidang, membaca selembar kertas, berpura-pura menjadi yang paling tahu tentang Central African Republic!

Uni time was insane indeed :)

Pernyataan yang mengatakan bahwa lulusan HI tidak memiliki skill yang jelas memang ada benarnya. Lulusan kedokteran? Tentu saja menjadi dokter dan menyembuhkan orang sakit. Lulusan Ilmu Komputer? Tentu saja membuat aplikasi yang bisa memudahkan hidup banyak orang. Lulusan Pendidikan? Mencerdaskan kehidupan bangsa. Lulusan Administrasi Negara? Mengurus negara. Lulusan Pertanian? Bekerja di bank Memastikan warga negara Indonesia tidak kelaparan dengan terobosan teknologi pertanian. Lulusan HI? Menjaga hubungan baik antarnegara? Well, menjaga hubungan baik dengan sesama saja sudah susah.

Lulusan HI memang tidak punya skill yang masuk dalam kotak kerja. Hampir tidak ada lowongan pekerjaan yang merinci Hubungan Internasional dalam persyaratannya (kecuali tentu saja di Kementerian Luar Negeri atau untuk lowongan yang membolehkan semua jurusan). Dan karena tidak ada skill spesifik yang hanya mampu dimiliki oleh mahasiswa HI-lah kemudian yang membuat lulusan HI bermanuver sedemikian rupa.

Teman-teman dan kakak-kakak tingkat saya, baik yang satu universitas maupun yang saya kenal dari kegiatan-kegiatan di luar, saat ini tersebar di berbagai macam bidang karir. Diplomat, tentu sudah pasti, jurnalis, reporter, penulis, pebisnis, account executive, public relations, peneliti, sales manager, dan entah apa lagi di berbagai perusahaan baik negeri maupun swasta yang bergerak di berbagai bidang. Hal ini terjadi karena, sejauh yang saya kenal, anak HI memang terbiasa memiliki berbagai macam kebisaan.

Saya punya satu teman yang pernah ditolak oleh sebuah perusahaan karena dinilai terlalu opportunis.

"Kamu bisa negosiasi?"
"Bisa, pak."
"Kamu bisa menulis?"
"Bisa, pak."
"Bisa Excel dan SPSS?"
"Bisa, pak."
"Bisa membuat laporan keuangan?"
"Bisa, pak."
"Bisa manage event?"
"Bisa, pak."
"Bisa selling juga ya? Pernah berdagang di kampus?
"Bisa dan pernah, pak."
"Di CV kamu tertulis kamu bisa desain? Photoshop dan Corel?"
"Bisa, pak. Video juga saya bisa walau memang belum mahir."
"Kamu opportunis sekali ya."

Lalu ditolak, karena dianggap tidak memiliki fokus di satu bidang tertentu.
Apakah kalian bingung? Ya, saya juga.
Tidak punya skill, ditolak. Terlalu banyak skill, juga ditolak.
FYI, saya juga pernah ditolak di sebuah perusahaan di wawancara user karena dianggap overqualified. Ternyata ditolak dengan kalimat "Kamu terlalu baik buat aku." itu memang menyakitkan ya :)

Well, bagaimanapun, kebanyakan anak HI memang memiliki skill yang beragam. Ya karena itu tadi, di kelas tidak pernah dituntut untuk memiliki skill tertentu sehingga memungkinkan anak HI untuk belajar skill lain yang sesuai dengan keinginan mereka. Anak HI juga yang paling banyak punya waktu luang, makanya yang paling sering keluyuran di acara-acara kampus juga, karena.. Well, menyelesaikan skripsi saja tidak perlu banyak keringat. Duduk di Indomaret Point saja beberapa jam dalam seminggu cukup tiga bulan skripsi kelar.

Skill lulusan HI memang tidak menjual. Tapi sangat berguna di kehidupan sehari-hari, baik di dalam kantor maupun di luar kantor.

Kemampuan mengidentifikasi masalah, kemampuan mencari solusi dengan variabel-variabel yang ada, kemampuan negosiasi dan resolusi konflik, kemampuan menulis, kemampuan ngebacot alias berbicara (yang ini sudah pasti semua lulusan HI punya), dan tentu saja kemampuan untuk cepat belajar dan adaptasi hal baru.

Kalau dipikir-pikir, belajar HI selama bertahun-tahun itu bukan sebuah kesia-siaan. Dimana lagi kita bisa belajar literally semua hal kalau bukan di HI? Di jurusan mana kita bisa belajar soal agama, politik, ekonomi, budaya, sepakbola, matematika, F-16, dan manajemen sampah sekaligus?

Kalau, in any chance, ada pembaca yang masih SMA dan somehow membaca tulisan ini dan tertarik belajar HI. Well, ada baiknya riset dulu mata kuliah apa saja yang ditawarkan di universitas yang mau kalian tuju. Jangan pernah berpikiran bahwa HI hanya belajar tentang luar negeri, seperti meme yang dibuat oleh adik tingkat saya ini hihihi


Lagipula, seriously, who signs up for a four-year study without even looking at what you sign up to??


Akhir kata, saya ingin merinci kenapa jangan kuliah di HI, hanya supaya tulisan ini berimbang, you know...

1. SUSAH BANGET CARI KERJA
2. SUSAH BANGET CARI KERJA
3. SUSAH BANGET CARI KERJA
4. SEKALINYA DAPET KERJA NGGA NYAMBUNG SAMA APA YANG DIPELAJARIN
5. DIANGGEP KEREN DAN PERLENTE PADAHAL HEHEHE

Sekian!
Kuliah? Hubungan Internesyenel aja˜˜˜

4 comments

  1. Anonim14.11

    Nothing I read on internet today is more relatable than this! Great post and keep the good work!

    BalasHapus
  2. Anonim17.47

    Wah sesama lulusan HI ni, yok semangat job seeker lulusan HI

    BalasHapus
  3. Anonim19.36

    Can't agree more! Haha

    BalasHapus
  4. Anonim23.03

    Memang menjadi lulusan HI itu banyak yg bilang abstak. Banyak yg belum tahu bahkan undrestimate soal kalau lulus mau jadi apa.Well. itu bener dan nyatanya memang masuk Kemlu dan menjadi diplomat karier memang susah. Dibalik itu semua sebagai mantan mahasiswa yg pernah ambis semasa kuliah. Saya jujur bangga, karena HI sudah benar2 mengkonstruk diri saya. Ya walau saya berada dipandangan ketiga yg melihat sesuatu berdasar pola dan hubungan antar aktor (ala-ala kaum transformasionalis). Saya senang sekali dengan value yg ditanamkan, kebebasan berpikir, terbuka dg berbagai paham, clash of ideology, role of media. dll.

    HI sumpah mengajarkan akan pentingnya ide, bagaimana widespreading idea atau norms, bahkan sampai cara biar terinstitusionalisasi. Dari ide yg diujung sono noh, yg ga digubris sampai bisa jadi sesuatu yg umum,bahkan diimani selanjutnya dalam aturan2. Kadang juga mikir, ane pengen gitu buat discourse siapa tau bisa kesebar wkwkkw.

    Ga nyangka aja ambisi dlu saya pengen jadi diplomat seengaknya sudah sedikit terwakili dengan kuliah HI, puji syukur. Walaupun sampai ini msh berjuang merengkuh masa depan.

    Sampai saat ini walaupun orang berkata apa, aku msh cinta sama studi ini. Buat adek2 yg mau masuk HI sumpa seru kok kuliahnya. Meski kadang puyeng dan blereng ditambah linglung karena kebanyakan jurnal wkwk

    Untuk semua mahasiswa dan mantan mahasiswa HI semoga impian2 kalian bisa tercapai.

    Fondly,
    Swtzl

    BalasHapus