Lagi, Tanpa Bosan, Menyoal Perempuan




Hari ini saya melihat status salah satu teman di WhatsApp. Singkatnya sih tentang kenapa sih kok ada orang yang segitu feminisnya sampai ribut mempermasalahkan kaum perempuan yang dibayar murah untuk memasak. Yang mengganggu bukan masalah kesadaran feminisnya, katanya, yang mengganggu adalah betapa bahkan becandaan "Imagine being so woke you're angry at people making meal. It's just cooking bro, it's not that deep." saja melahirkan kuliah nan panjang betapa sosieti alias masyarakat memandang memasak sebagai pekerjaan lazim lumrah wajib bagi perempuan sehingga tidak pernah mempermasalahkan upah kecil yang didapatkan oleh kaum marjinal ini.

Saya sih, tidak pernah mempermasalahkan pandangan feminis yang sebegitu ribetnya itu. Pertama, karena bagi saya memang pelumrahan melalui becandaan itu yang paling susah untuk dihilangkan. "Aduh, kan cuma becanda!" ya memang. Bagi saya, dan saya yakin bagi banyak woke people lainnya yang merasa becandaan ini sama menggangunya dengan becandaan "Kalo cuma bisa ngangkang jangan jadi istri tapi open BO aja!" tipe-tipe becandaan yang tidak lucu dan tidak menyegarkan sama sekali. Lagipula bukankah pelumrahan memang muncul dalam canda? Bukankah kita mengatakan satu hal itu lumrah jika kita terbiasa membuatnya sebagai bahan candaan?

"It's just cooking bro. It's not that deep." bagi saya adalah pelumrahan. Suka atau tidak, candaan adalah sesuatu yang muncul tanpa analisa, tanpa proses berpikir, yang artinya bahan candaan muncul dari alam bawah sadar kita. Muncul dari pemahaman kita akan sesuatu. Kalau memang yang kita pahami adalah memasak hanya soal memasak bagi perempuan semata ya itu berarti alam bawah sadar kita memang mengakui bahwa pekerjaan memasak adalah pekerjaan yang wajib dilakukan bagi perempuan.

Tapi, tentu saja saya bisa salah. Pun saya juga tidak tahu asal muasal kalimat tersebut dipicu oleh cuitan lain yang mungkin saja memang candaan satir dan dibalas dengan candaan satir lainnya. Lagi, saya hanya melihat potongannya dari status seorang teman.

(Malamnya, salah satu teman yang lain mengirim pesan dan menanyakan perihal masak-memasak yang ternyata sedang meledak di twitter itu. Dia sedang terlibat perdebatan dengan laki-laki lain tentang bagaimana seharusnya istri yang memasak dan tinggal di rumah seharusnya diberi upah.

Ok, jadi saya paham maksudnya upah di sini. Sebelumnya saya kira upah di sini dimaksudkan untuk pekerja domestik yang diberi upah di bawah standar, oalah ternyata upah ini dimaksudkan untuk ibu rumah tangga. Hahaha. Ok.

Kemudian, saya memberikan jawaban yang kurang lebih seperti ini: Menikah, atau berumahtangga adalah pekerjaan kelompok yang dilakukan secara bersama-sama. Dalam peran tradisional, suami mencari nafkah dan memastikan kehidupan istri dan anak-anaknya tercukupi. Istri mengurus rumah dan memastikan kebutuhan suami dan anak-anaknya tercukupi. Suami menghabiskan lebih dari separuh hidupnya berumah tangga dengan bekerja dan jauh dari rumah. Istri menghabiskan lebih dari separuh hidupnya berumah tangga dengan bekerja di rumah.

Suami lelah dari pagi hingga sore bekerja dan mencari uang untuk membayar sekolah, listrik, cicilan, tabungan pensiun, dan hadiah ulangtahun pernikahan.

Istri lelah dari pagi hingga sore bekerja di rumah memasak, mengantar jemput anak sekolah, menyuci baju, menyuci piring, menyetrika baju, menemani anak belajar.

Tentu tidak akan selalu rigid begitu, terkadang istri juga berjualan membantu nafkah keluarga dan terkadang suami menjemur pakaian atau mengambil rapor anak.

Tidakkah pembagian peran tradisional tersebut sudah imbang dan adil? Saya, seberapa pun feminisnya, saya tidak akan mau menerima 'upah' dari suami untuk memasak dan menjaga anak saya sendiri. Saya malah akan terasa terhina. Karena, bukankah itu adalah kewajiban dan kebanggaan saya sebagai seorang istri dan ibu? Yaa.. Meskipun tentu saja 'upah' itu bisa juga diberikan dalam bentuk liburan keluarga atau kado ulang tahun, no?

Lagipula, kapitalis mana sih yang mulai melihat pernikahan sebagai neraca untung rugi dan hitung-hitungan matematis begitu?

Kalaupun mau dihitung siapa yang lebih rugi, saya malah sejak dulu selalu peduli dengan stigma bapak yang tidak kenal anaknya. Karena tentu saja bapak kerja di luar dari senin hingga jumat, bayangkan hanya sabtu dan minggu saja bapak ada di rumah, tentunya tidak sepadan dengan kehadiran ibu yang 24/7 ada di jarak pandang si anak. Tidak heran kalau kemudian 10 dari 10 anak lebih sayang ibu daripada bapaknya. Rugi sekali menjadi bapak, sudah harus jauh dari rumah demi istri dan anak-anak eh tetap saja ada di urutan keempat di hati seorang anak!)

Kembali ke status tersebut, saya jadi otomatis teringat pada satu cerita di Harry Potter yang ditulis oleh JK Rowling (yang akhir-akhir ini di-cancel banyak orang karena insensitif terhadap transpuan). Ngomong-ngomong, bagaimanapun reputasi Rowling sekarang, saya masih yakin bahwa sebagai penulis ia memang luar biasa dan meskipun ia gagal memperlihatkan representasi yang lebih beragam dalam kisah penyihir yang ditulis di tahun 90-an itu (seriously people, HP diterbitkan tahun 1997 dan kalian mengadili Rowling karena tidak memasukan lebih banyak representasi gender dan ras? Apa tidak ingat Westlife yang terpaksa harus bubar di awal tahun 2000-an hanya karena salah satu personilnya seorang gay?) tapi Rowling berhasil memberikan satu pelajaran penting tentang feminisme.

Ceritanya di buku ketujuh ketika trio penyihir berkemah keliling negeri mencari horcrux dan Hermione marah karena selalu diberi tugas untuk menyiapkan makanan "Karena aku perempuan, kurasa!" dan bukan karena fakta bahwa ia yang paling pintar sihir diantara Ron dan Harry. Ya, memasak memang seolah sudah terlalu lekat pada kaum perempuan. Bahkan saat saya KKN pun, yang dilakukan di masa modern 2017, tidak pernah sekalipun teman-teman mahasiswa saya memasak di dapur.

Karena saya banyak menonton series saya juga langsung ingat pada episode 15 di Young Sheldon Season 3. Di episode tersebut Sheldon kecil mendapatkan tugas kelompok di kampus untuk pertama kalinya. Ia ada di satu kelompok bersama seorang remaja laki-laki dan perempuan. Karena Sheldon belum cukup umur, kerja kelompokpun dilakukan di rumahnya. Ibu Sheldon, wanita kristen taat yang selalu memuliakan tamu, lalu meminta si mahasiswa untuk membawa pakaian kotornya agar bisa dicuci sementara mereka bekerja kelompok. Ibu Sheldon juga memanjakan teman-teman anaknya dengan kudapan dan makanan.

Saat kerjanya dimulai, si laki-laki meminta si perempuan untuk mencatat di papan tulis sementara mereka berdiskusi. "Why? Because I'm a woman so I must have prettier handwriting?". Tidak berhenti di situ, Sheldon yang memang bocah jenius meminta teman-temannya untuk tidak berpikir dan percaya pada pemecahan masalah yang ia bawa untuk tugas tersebut. Keadaan memanas dan teman sekelompoknya pergi dari ruang tamu. Si perempuan merokok di luar rumah saat ibu Sheldon keluar mencoba mendinginkan suasana.

Si perempuan lalu bercerita bagaimana rasanya menjadi mahasiswi di prodi yang mayoritas diisi oleh laki-laki. Ia juga menceritakan bagaimana rasanya menjadi calon ilmuwati diantara ilmuwan-ilmuwan. "They used to look down on me, you know? Said I am a woman and I belong to the kitchen and it doesn't help when woman like you spoil them by doing their laundry and cooking their meals."

Ibu Sheldon marah dan menutup pintu (setelah dengan epiknya mengatakan "Sheldon doesn't look down on woman. He looks down on everybody!"). Setelahnya si perempuan meminta maaf karena telah menjadi tamu yang buruk dan menyakiti perasaan ibu Sheldon. Ia berkata bahwa sebagai perempuan, yang selalu menginginkan kebebasan dan kesetaraan bagi kaumnya, ia sadar bahwa keseteraan itu berarti perempuan bisa memilih untuk menjadi ilmuwan maupun menjadi pengurus keluarga, termasuk memasak dan mencuci pakaian kotor.

Saya rasa pemahaman itu yang banyak belum dimiliki oleh orang. Banyak feminis-feminis yang kemudian mengagungkan wanita-wanita yang perkasa berdiri di belakang meja kantor dan merendahkan sesamanya yang memilih duduk di belakang konter dapur memanaskan minyak sayur. Bukankah kesetaraan memang berarti kita bisa menentukan apapun yang kita mau tanpa dibatasi oleh gender yang tidak kita pilih?

Pun, memang kenapa toh kalau memasak kemudian selalu diasosiasikan dengan perempuan? Membetulkan genting juga selalu diasosiasikan dengan laki-laki. Membeli perabotan rumah yang mewah dan menyekolahkan anak di sekolah mahal juga selalu diasosiasikan dengan kemampuan laki-laki mencari uang.

Saya rasa saya tidak akan pernah mempermasalahkan jika saya diasosiasikan sebagai tukang masak. Yang akan saya permasalahkan adalah saat orang mempertanyakan mengapa saya memilih untuk tidak memasak demi bekerja. Dan memang itu yang mungkin masih dirasakan oleh banyak perempuan bahkan di kota besar. Mengapa kita harus memilih antara kantor dan dapur? Dan mengapa ketika kita memilih salah satunya lalu kita dihakimi?

0 comments