Menutup Riwayat


"Mengakhiri hidup adalah kekekalan bagi kesementaraan." 

Daim merebahkan kepalanya di atas bantal bersarung abu-abu. Kamarnya temaram dan sunyi. Udara dingin menyergap seisi ruang kubik melalui celah-celah kecil di atas jendela yang kusam dan berdebu. Bercak-bercak lembab menghiasi dinding kamar yang kotor, diselingi beberapa potongan kertas penuh coretan di sana-sini. Kontras dengan pemandangan semrawut di sekelilingnya, lantai di bawah kasur tipis tempat Daim terbaring anehnya terlihat bersih dari segala pernak-pernik. Beberapa pakaiannya yang belum disetrika ditumpuk rapi di atas meja kayu pendek. Sedikit buku yang dibeli Daim di awal kuliah tersusun di samping komputer bututnya. Segenggaman pulpen yang sudah habis tinta berdiri mengancam dari dalam kaleng. Daim adalah manusia yang apik, bahkan setelah saat ini hidupnya jungkir balik.

Sudah lima tahun tugas akhirnya tidak menemui jalan keluar. Di enam bulan pertama, Daim berpikir keterlambatan itu masihlah hal yang lumrah. Separuh kawan-kawannya di prodi belum jua selesai. Setahun kemudian, Daim masih bersantai. tiga tahun yang lalu, resah mulai menyergap. Terakhir ia ke kampus, tak ada satupun wajah yang dikenalinya. Semua baru. Daim linglung dan pulang mundur.

Enam tahun lalu, beasiswa desa yang didapatnya juga sudah habis masa berlakunya. Uang santunan itu hanya mampu membiayai kuliah hingga semester enam. Setelahnya, Daim harus terlunta-lunta mencari uang. Dan siklus setan hidupnya pun dimulai. Ia harus menyelesaikan kuliahnya, untuk menyelesaikan kuliahnya ia harus bekerja, karena terlalu sibuk bekerja ia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya. Hidupnya lalu berputar dalam roda melelahkan tanpa ujung. Roda yang tampaknya hanya ada untuk orang-orang tak beruntung seperti Daim. Ia tidak melihat teman-temannya terengah-engah berlari dalam roda. Semua temannya berlari dalam lintasan lurus, beberapa dengan kendaraan jet. Daim? Menyentuh garis mulaipun belum. Sial. Turun dari roda putar keparat inipun belum.

Kini, sudah hampir tiga bulan ia menganggur. Kantor tempatnya bekerja telah merumahkan seluruh karyawan. Pandemi terkutuk menghantui seluruh dunia sejak awal tahun cantik ini. Tahun di mana banyak orang merencanakan hari bahagia mereka sekarang telah berubah menjadi tahun terburuk sepanjang masa, setidaknya bagi orang-orang yang lahir setelah perang dunia. Daim sudah mengeruk seluruh tabungan uang kuliah. Ia sudah pasrah melepas mimpinya sebagai sarjana. Mungkin seumur hidup berseragam kaus tipis dan pulang selepas petang dengan upah minimum telah menjadi garis takdirnya. Hari ini ia bahkan belum makan. Yang tersisa dari kotak kardus tempatnya menyimpan bahan makanan hanyalah sebungkus kopi instan. Itupun sudah ia seduh tadi pagi, pekat tanpa gula.

Udara petang menguar masuk memenuhi ruang kubik kecil itu. Daim memejamkan mata. Sudah seminggu ini ia hampir gila. Ia butuh alam. Ia butuh angin beku gunung-gunung tinggi. Ia butuh suara ombak berkejaran. Ia butuh merasakan percikan air asin. Apapun, yang bisa membuatnya bersyukur ia masih hidup. Tapi tentu saja, keluar dari kota ini sama dengan menantang maut. Secara literal maupun figural. Ia harus berhadapan dengan petugas-petugas yang akan mengecek surat-surat tes. Sial, kalaupun dia bisa membayar serangkaian tes mahal itu tentu sekarang perutnya tidak akan merintih terendam air pahit kopi murahan. Ia harus terpapar virus dan mati. Tapi mungkin pilihan yang terakhir itu terasa cukup baik.

Ada saat-saat Daim bermimpi duduk di kantor pialang tinggi. Berdasi dan perlente. Menyetir mobil mengkilap berwarna biru gelap. Pulang ke rumahnya yang besar berlantai dua di pusat kota. Istri cantik bermata jeli dan anaknya yang penurut, berambut ikal seperti Daim, tersenyum menunggu dan bersandar di kisi-kisi pintu. Tapi mimpi-mimpi itu tercecap seperti kertas buku usang yang entah sudah disimpan berapa dasawarsa. Atau sepeti film tua yang sudah tak bisa mengeluarkan suara. Asing dan rusak.

Daim lebih memilih Soe Hok Gie dan kerinduannya kepada kematian  muda. Nasib paling mujur memang tidak pernah dilahirkan. Tidak ada kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Detik kau keluar dari lubang di tubuh ibumu, detik itu pula kau harus berjuang. Menangis terpapar udara dingin dan megap-megap meraup udara. Kehidupan itu kejam.

Pikirkan hal-halbenda, suara, rasa–yang mungkin akan kita rindukan jika kita tidak lagi hidup.

Begitu kata salah satu artikel pencegahan bunuh diri yang Daim baca. Menggelikan, pikirnya. Jika orang-orang sungguh peduli pada kehidupan orang lain maka seharusnya mereka menciptakan penghilang rasa sakit yang bekerja selamanya. Tidak ada manusia yang membunuh dirinya sendiri karena ingin mati. Mereka melakukannya karena tidak ingin merasakan sakit lagi. Apa juga toh yang bisa dirindukan dari hidup ini selain kesengsaraan dan kemelaratan?

Daim toh tetap rindu suara gelombang air laut. Laut adalah ibunya. Di masa-masa pelik selama kuliah–kehilangan kekasih, dikejar tenggat hutang, tidak lulus ujian, kehabisan rokok–Daim akan lari ke pantai. Seperti apa yang dititahkan Rako Prijanto. Lari ke hutan lalu ke pantai. Melihat laut. Melihat gelombang yang datang berduyun-duyun tanpa ampun, perkasa. Melihat kekuatan air yang begitu besarnya membuat Daim merasa kecil dan tak berharga. Dan segala hal di dunia ini–rasa sakit dan kehilangan–tidak berarti apa-apa. Begitu kecil hingga manusia bisa saja tenggelam dan larut di bawah gelombangnya tanpa diributkan oleh siapapun. Lenyap. Begitu mudah.

Daim membuka matanya setelah sekian lama terbaring dan membutakan diri. Kini kamarnya biru gulita. Di luar, Daim bisa mendengar suara-suara kehidupan–obrolan pekerja yang baru pulang, suara kendaraan lalu lalang, panggilan solat. Daim bangkit dari kasur dan merentangkan tangannya meraih ponsel di atas meja kayu. Ia sumpalkan perangkat jemala ke lubang telinga dan menyetel suara ponsel  dalam mode nyaring.

Daim rebah. Suara gelombang air laut yang direkam orang lain di belahan bumi lain memenuhi ruang pendengarannya. Perlahan, tarikan napasnya berpadu dengan naik surutnya ombak. Daim memejamkan mata dan ia bisa melihat gulungan ombak berlarian menghampirinya dari tengah laut yang gelap dan dingin. Berduyun-duyun merengkuhnya ke dalam dekapan beku yang melarungnya ke kedalaman. Daim dapat mencium bau asin air dan butir pasir. Jemarinya menggaruk sprei kasur dan ia bisa merasakan lembut pasir menempel di telapak tangannya. Daim menghela nafas pelan dan dalam. Ia bisa merasakan hujan turun. Tetesan air beku yang jatuh di kulit wajahnya satu dua. Lalu seluruh. Beku. Basah.

"Apa hal yang paling kamu suka dari hidup ini?"

"Hujan."



0 comments