Pergi Atau Pulang?



Diminta memilih antara pulang atau pergi itu menurut saya seperti diminta untuk memilih kaya atau sehat: mustahil. Untuk apa bisa pulang kalau tidak bisa pergi lagi? Untuk apa pergi kalau tidak bisa pulang?

Pemikiran absurd ini muncul saat saya sedang leyeh-leyeh di sela-sela mengerjakan pekerjaan kantor. Saya tiba-tiba kepikiran pada salah satu novel dari penulis Indonesia yang menurut saya cukup apik yaitu Pulang dari Tere Liye. Saya harus mengatakan bahwa saya bukan penggemar penulis-penulis Indonesia, apalagi dalam hal fiksi. Banyak cerita yang menurut saya nanggung dan memiliki gaya bahasa yang 'ngga gue banget'. Mungkin hal ini karena pengaruh membaca novel-novel terjemahan R. L. Stine sejak dari jaman SD yang kemudian membuat saya terbiasa menikmati gaya bahasa novel terjemahan.

Kembali pada novel Pulang Tere Liye, saya membaca novel tersebut kira-kira dua tiga tahunan yang lalu. Rekomendasi dari seseorang. Waktu itu saya penasaran pada gaya penulisan Tere Liye dan memutuskan untuk membaca salah satu novelnya. Katanya, Pulang adalah novel Tere Liye paling bagus yang pernah ia baca.

Memang, saya akui Pulang adalah salah satu novel yang melebihi ekspektasi saya waktu itu. Tere Liye berhasil menampilkan gambaran detail dari setiap sisi ceritanya. Meskipun akhir ceritanya terasa antiklimaks dan menurunkan tingkat kesukaan saya terhadap novel tersebut tapi saya bisa dengan aman bilang bahwa saya menikmati Pulang. Dan dengar-dengar novel Pergi juga sudah ada tapi saya belum tertarik untuk membacanya. Mungkin nanti.

Kembali pada masalah pulang atau pergi. Banyak orang merasa bahwa pulang adalah pilihan yang lebih romantis. Pulang ke rumah, pulang pada orang yang terasa bagai rumah. Duh, manis sekali, kan?

Pulang diasosiasikan dengan kenyamanan, keamanan, dan ke-permanen-an. Sesuatu yang memang terasa sangat jarang ada pada kehidupan kita. Pulang terasa jauh lebih berharga karena tidak semua dari kita beruntung bisa pulang. Tidak semua dari kita beruntung bisa punya sesuatu, atau seseorang, untuk pulang.

Tapi, tetap bagi saya, saya lebih memilih pergi. Pergi selalu memberikan konotasi negatif. Orang-orang yang pergi adalah orang-orang yang menyakiti, yang melupakan, yang antagonis. Apalagi jika tidak pakai embel-embel pulang kembali. Bahkan dulu saya selalu tidak suka tiap kali ibu saya mengatakan bahwa beliau mau pergi, entah itu ke kampus atau ke kantor atau sekadar ke pasar membeli susu. Dalam kepergian tidak pernah ada kepastian akan pulang.

Tapi saya tetap memilih pergi ketimbang pulang. Bagi saya pergi berarti jutaan kesempatan yang bisa saya hadapi. Pergi berarti menemukan banyak hal baru dalam perjalanan. Entah itu batu dengan bentuk unik di pinggir trotoar atau jajanan dengan rasa aneh dan saus yang terlalu pedas. Saya merasa bahwa bepergian membuat saya menemukan diri sendiri.

Apa selalu pergi tidak melelahkan?

Saya selalu merasa bahwa pulang adalah sebuah finalisasi. Bahwa begitu sampai rumah maka saya akan menyublim menjadi kenyamanan. Mengenakan piyama katun tanpa celana, rebah, dan menyendok eskrim dari mangkuk kertasnya. Pergi memberikan hidup saya arti yang lebih. Berjalan memberikan ilusi bahwa kita punya tujuan.

Karena itu, pandemi ini membuat otak saya berdesing menyakitkan. Saya butuh pergi. Saya butuh tersesat dan ditemukan.

0 comments