Kenangan: Baik Dikenang, Buruk Dikekang

 

Beberapa hari lalu saya dan kekasih tiba-tiba saja terantuk sebuah topik pembicaraan secara tidak sengaja. Kalau tidak salah sih waktu itu kita sedang mengobrol tentang kecerdasan genetik pada anak-anak. Katanya, anak-anak yang terlahir sebagai orang jenius akan punya memori lebih dini ketimbang anak-anak dengan tingkat kecerdasan yang lebih rendah.

Kami lalu berebut mengingat memori paling awal yang bisa kami ingat. Dia bilang dia bisa mengingat perayaan ulang tahunnya yang ke-3. Ada cici kecil yang datang menggunakan rok dan lupa pakai celana, katanya. Dia ingat memberikan potongan kue pertama pada cici kecil itu. Lain dengan ingatan yang saya dapatkan dari hasil memeras memori saat pembicaraan tersebut berlangsung, ingatan saya cenderung tidak jelas. Saya juga ingat saat itu umur saya masih tiga tahun, mungkin kurang mungkin lebih, tapi detail yang bisa saya ingat tidak sebaik yang diingat oleh kekasih saya itu (iya, dia memang lebih cerdas).

Tapi saya ingat potongan-potongan. Memori paling awal yang saya ingat adalah berdiri diam menggandeng tangan Mama, melihat takjub ke kaca-kaca yang melingkupi tempat kita berdiri. Ikan-ikan berenang, besar dan kecil, di sekeliling kita. Iya, saya ingat berwisata ke Sea World waktu itu. Tapi saya tidak bisa ingat apa yang saya rasakan. Senang? Takut?

Tapi saya juga punya memori lain di waktu yang hampir sama. Saya ingat minggu pagi. Saya ingat mengatupkan mulut rapat-rapat karena tau saya akan mendapat lebih banyak masalah kalau menangis, tapi saya juga tidak bisa menahan sakitnya, airmata saya jatuh tapi mulut saya diam. Saya ingat persis apa yang saya rasakan. Saya bahkan ingat apa yang saya pikirkan saat itu. Dan kejadian itu berlangsung tidak jauh dengan memori Sea World.

Yang kemudian membuat saya berpikir adalah: apakah memori yang membuat kita tidak nyaman seperti takut, sedih, kecewa, membekas lebih lama ketimbang memori senang dan bahagia?

Sudah banyak penelitian-penelitian yang mengungkapkan bahwa memori baik cenderung lebih mudah hilang ketimbang memori buruk. Bahkan, kita bisa mengingat memori baik dengan detail yang luar biasa. Detail ini mencakup apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, dan apa yang otak kita pikirkan. 

Bahkan beberapa penelitian neurologis menyatakan bahwa memori atau kejadian negatif bisa menstimulasi bagian otak yang dipakai untuk memproses emosi, orbifrontal cortex dan amigdala. Disebutkan juga bahwa kinerja otak ini murni sebagai proses evolusi untuk bertahan hidup. Ketika kita menyimpan secara detail memori saat kita takut maupun sedih maka itu adalah respon dari otak yang menginginkan kita untuk mengenali ancaman yang sama di masa mendatang. Ini adalah respon agar kita bisa menghindar dari ancaman yang sama.

Tapi, mengenyampingkan ilmu dan penelitian, saya selalu tidak suka mengingat memori indah hanya karena satu alasan saja: saya tidak tau kapan lagi bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Karena terkadang memori bahagia yang kita punya memiliki elemen yang sudah tidak lagi ada di hidup kita. Misalnya tempat yang sudah tidak lagi bisa kita datangi atau orang yang sudah tidak lagi bisa kita temui.

Sama seperti sungai kecil di foto postingan ini. Itu adalah tempat dimana saya dan saudara-saudara saya suka menghabiskan waktu sore bermain air di kampung halaman dulu. Sekarang tempat tersebut sudah menjadi tempat wisata. Tidak lagi sama dengan memori yang saya miliki. Thus, saya merasa kehilangan tiap kali saya mengingat sore-sore berkilauan menyiramkan air ke batu-batu besar di pinggir sungai.

Jadi manusia susah juga ya. Mengingat memori bahagia saja tetap bisa sedih perasaannya. Nanti di kehidupan mendatang, saya mau jadi teripang saja.

0 comments