Mungkin, Dulu Kita Semua Penjahat Perang


"Aku mau sama dia, tapi ego kita sama-sama besar.



Jesse dan Celine, dua sejoli di trilogi Before Sunrise, yang menunjukkan pada remaja milennial bahwa jatuh cinta paling baik adalah melalui perbincangan sayangnya juga menunjukkan bahwa laki-laki memang dilahirkan tanpa kemampuan menurunkan egonya.

Memikirkan cinta itu bikin sakit kepala. Ada saja hal yang tidak seperti apa yang kita mau. Dulu, waktu kecil saya dibuat paham bahwa cinta sejati adalah ketika hubungan cinta yang kita miliki bersama dia itu terasa mulus dan lancar, effortless. Everything just falls perfectly into its place. Tapi ya kenyataannya, tidak peduli berapapun manusia yang jadi tujuan cinta kita, toh tetap tidak ada yang sempurna mulusnya. Ada perjuangan-perjuangan yang harus dilakukan, ada pengorbanan-pengorbanan yang harus diberikan. Ada aja pokoknya.

Dulu, saya pertama kali patah hati karena cinta yang saya dapatkan setengah-setengah lalu berniat tidak akan jatuh cinta kalau dia tidak cinta saya 100% juga!

Lalu, sudah bersama manusia yang mencintai 100% ternyata masih juga tidak bahagia.

Ya, karena orangnya tidak sepadan! Tidak sekufu!

Lalu, sudah bersama manusia yang sepadan, sekufu, sejajar tapi masih juga pening memikirkan cinta. Karena merasa tidak dicintai 100%.

Hash! Manusia!

Bukan ding. Saya saja.

Hash! Flory!


Teman saya juga sedang pening memikirkan cinta. Cintanya tidak bisa memberikan kepastian.

"Aku ngga tau, aku ngga bisa janjiin kalau akhirnya bakal tetap sama kamu."

Ya ya ya.. Klasik.

Teman lainnya pening karena merasa rasa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Astaga... Apa kita ini semua dulunya adalah penjahat perang sampai-sampai di kehidupan sekarang dikutuk menjadi miskin dan lajang seumur hidup?

Cinta.. Cinta.

Kenapa sih manusia butuh cinta? Memang apa yang akan terjadi kalau kita hidup tanpa cinta? Kok sepertinya cinta ini lebih bikin susah daripada bikin senang?

"Aduh, wanita. Cinta itu simpel, ngapain sih dibikin ribet?" - semua laki-laki yang membaca tulisan ini.


Nah, itu. Kenapa dua orang yang jatuh cinta itu tidak bisa punya pikiran yang sama? Kenapa dua orang yang jatuh cinta, sama seperti hati mereka yang sudah terbuka satu sama lain, tidak bisa membuka pikirannya untuk satu sama lain? Kenapa dua orang yang jatuh cinta tidak bisa punya kekuatan membaca pikiran masing-masing? Dosa apa yang sudah dilakukan umat manusia sampai harus terjebak dalam pahit manisnya cinta, sepanjang masa berkelit bertarung mencoba membaca pikiran pasangannya masing-masing?

Mungkin, dulu kita semua penjahat perang.

0 comments