Fisika dan Filosofi: yang Saya Cerna dari Cosmos

 

 
 
Setelah berpetualang dan berlelah-lelah di hari Sabtu, maka hari Minggu adalah waktu untuk tidak mandi seharian dan tidak meninggalkan kasur sekalian. Setelah membeli salad buah promo untuk makan siang sekaligus makan malam, saya kembali bergelung di bawah selimut dan melanjutkan dua episode terakhir Cosmos: The Space Odyssey yang sempat terjeda oleh How To Get Away With Murder.

Dari kecil, saya lebih suka langit daripada laut. Planetarium Jakarta adalah salah satu destinasi liburan terbaik yang pernah saya kunjungi waktu kecil dulu. Laut kita memang luas dan penuh misteri, tapi apa misteri yang lebih dalam dan tidak terbatas selain alam semesta? Mengetahui bahwa saya begitu kecil dan bahwa semesta begitu luat membuat saya merasa jumawa sekaligus awas. Dan karena alasan itulah saya mulai menonton serial Cosmos ini (selain karena tentu saja rating IMDBnya yang mengesankan!)

Sebagai perkenalan, serial Cosmos: The Space Odyssey ini dibawakan oleh Neil deGrasse Tyson dan terinspirasi dari serial dengan judul yang sama yang pernah dibawakan oleh legenda astrofisika, Carl Frikking Sagan. Sekalipun bercerita tentang luar angkasa, namun Cosmos juga banyak bercerita tentang kehidupan di bumi. Sebagai tontonan yang banyak bersinggungan dengan ilmu fisika seperti string theory, gravitasi, relativitas, dark matter, dan dark energy, hebatnya Cosmos juga menyajikan begitu banyak cerita dari ilmu pengetahuan lainnya seperti antropologi, biologi, dan bahkan biokimia.

Namun, sebagai orang yang menyukai dan memiliki latar belakang humaniora saya tentu saja lebih banyak mencerna dari sisi-sisi yang lain selain hard sciences yang ditayangkan. Seperti tentang bintang-bintang yang kita lihat di langit malam. Neil menjelaskan bahwa kemilau bintang-bintang yang kita lihat tidak lain merupakan pantulan sinar dari bintang yang sudah mati. Karena jaraknya yang begitu jauh dari bumi, sinarnya baru sampai ke bumi lama setelah tubuhnya meledak. Langit malam kita tidak lain dan tidak bukan adalah kuburan massal bintang-bintang.

Saat mendengarkan penjelasan ini, yang mengendap di pikiran saya bukan hanya seberapa jauh jarak satuan cahaya tapi bagaimana bintang-bintang sebenarnya merepresentasikan manusia. Ada miliaran manusia di muka bumi ini. Dan mereka semua ditakdirkan mati suatu hari nanti. Hanya sedikit saja yang bisa hidup hingga ribuan tahun kedepan. Ya, mereka-mereka yang sinarnya begitu terang hingga bisa bersinar melampaui ratusan tahun perubahan zaman.

Sama seperti bintang yang cahayanya memantul lama setelah meninggal. Manusia di bumi pun juga tetap 'dikenang' lama setelah mereka meninggal. Beberapa dikenal secara abadi. Orang-orang besar seperti Nabi Muhammad atau Newton. Beberapa yang lebih tidak signifikan seperti saya hanya akan dikenang oleh orang-orang terdekat saya. Keluarga, mungkin. Itupun hanya satu dua generasi saja. Lalu apa-apa yang saya pilih untuk hidup di dalam ingatan mereka adalah tanggungjawab saya. Semua bintang bersinar sama indahnya. Tapi sinar yang ditinggalkan manusia tentu saja beragam. Apa-apa yang ditinggalkan manusia setelah mereka meninggal tidak semuanya berkilauan. Namun, bagaimanapun jua toh manusia tersebut tetap hidup dalam pikiran manusia lainnya, dalam keadaan berkilauan maupun tidak.

Bukankah kita sama seperti bintang-bintang yang tetap hidup bahkan lama setelah kita mati?
 
Fisika membuat saya memahami hal-hal sederhana tentang kehidupan yang tidak pernah dijelaskan secara gamblang dalam kelas-kelas Humaniora.

Itu satu. Kemudian, hal lain yang saya dapat dari Cosmos adalah tentang betapa luasnya alam semesta. Dan karena itulah apapun masalah yang sedang dihadapi kita manusia kecil insignifikan ini bukan apa-apa dibanding megahnya dunia. Neil juga menjelaskan tentang betapa manusia masih saja takut dan enggan menjelajah alam semesta dengan alasan ketakutan akan ketidakpastian. Neil lalu memberikan contoh tentang kaum penjelajah dari Asia Timur yang mampu mengalahkan segala rintangan dan ketakutan akan ketidaktahuan untuk berlayar menuju pulau-pulau di daerah Pasifik. Umat manusia adalah penjelajah yang berani. Sebelumnya, di muka bumi kita hanya tahu satu daratan tapi lalu kita bisa mengarungi lautan dan menemui daratan lainnya yang tidak pernah kita tahu keberadaannya. Lalu, mengapa takut dengan mengarungi alam semesta? Bukankah kita, umat manusia, sudah pernah melakukannya?

Ini saya pahami sama dengan ketika kita harus melakukan hal yang benar-benar baru. Ketika hidup kita mendapatkan perubahan yang drastis, seringkali perubahan yang tidak kita inginkan, maka kita akan menyangkal atau bahkan melawan. Kenapa? Kenapa tidak kita arungi saja? Takut untuk pindah ke kota lain yang asing dan tidak kita kenal? Lalu kenapa? Bukankah nenek moyang kita saja begitu berani pindah mengarungi lautan tanpa ujung? Kenapa harus takut hanya berpindah kota? Berpindah tempat kerja? Dan pindah-pindah yang lainnya?

Nenek moyang kita adalah manusia yang hebat. Kenapa kita tidak bisa hebat juga?

0 comments