Tidak Perlu Diromantisasi, Jogja (Memang) Sudah Romantis

 

Dulu, sewaktu memutuskan ingin kuliah di universitas mana, saya hanya ingin UI. Iya, biarpun universitasnya ada di kota yang membosankan dan ruwet tapi demi UI saya rela-rela saja hidup di kota yang medioker. Lalu saya juga mencari cadangan kampus lain kalau-kalau tidak diterima di UI. Pilihan saya bukan pada kampus lagi tapi kota. Kalau tidak bisa kuliah di UI, yaa might as well kuliah di tempat yang saya suka suasananya. Jogja. Saya pun mencari kampus swasta terbaik yang punya jurusan Hubungan Internasional di sana. 

Kenapa saya begitu ngotot sekali kuliah jauh-jauh sampe ke Jogja? Saya juga tidak tahu. Bagi saya dulu Jogja itu kota cantik. Bandung juga cantik sih, tapi orangtua saya tidak mengizinkan remaja baru lulus SMA untuk kuliah di Bandung. Entah kenapa hidup di Bandung bagi orangtua saya konotasinya negatif. Ketika saya memberikan proposal Jogja, wah langsung disetujui. Pertama, karena dekat Karanganyar dan Solo kampung halaman saya. Kedua, karena biaya hidupnya murah. Ketiga, supaya dikelilingi oleh orang-orang Jawa (jadi mama tidak perlu cemas punya mantu selain orang Jawa, katanya).

Dan bidikan saya tepat. Selama empat tahun saya kuliah, Jogja benar-benar tidak pernah mengecewakan. Selalu cantik, selalu ramah. Rasanya seperti rumah kedua.

"Kalau pacaran di Jogja terus putus, harus pindah kota nih biar bisa move on!"

Celetuk salah satu teman saya di akun twitternya. Mungkin iya bagi beberapa orang, tapi Jogja bagi saya lebih dari sekedar kenangan menye-menye bersama mantan kekasih. Tentu saja saya patah hati berkali-kali di sini. Jatuh cinta juga berkali-kali di sini. Tidak mengubah perasaan saya terhadap tempat nyaman ini. Karena selama empat tahun saya punya buanyak sekali kenangan indah di sini: bersama teman-teman, rekan kerja. Kenangan haru biru dan kenangan membanggakan yang rasa-rasanya tidak akan bisa ditandingi oleh kota-kota lain.

Banyak yang bilang Jogja terlalu diromantisasi. Katanya Jogja dikisahkan dramatis agar orang-orang lupa berbagai masalah pelik yang menyelimuti tanah sultan ini: sampah, kemacetan, klitih, dan upah kelewat kecil. 

"Tapi, Jogja tuh provinsi paling bahagia se-Indonesia, loh!"

Saya berargumen kala itu ketika sedang berdiskusi dengan teman apakah hidup seterusnya hingga punya anak cucu di Jogja adalah hal yang tepat.

"Yaa.. Karena orang-orangnya nrimo ngga sih? Kayak yang... Yaudahlah. Gitu."

Iya, memang. Kan bahagia itu hanya masalah penerimaan.


Dulu saya tidak pernah membayangkan hidup (berkeluarga, membesarkan anak) selain di Jakarta. Kenapa? Sederhana. Ibukota akan selalu punya akses pendidikan dan kesehatan yang terbaik. Tapi lalu sekarang saya tahu bahwa Jogja juga punya sekolah yang tidak kalah bagus dari SMA 70 atau atau SD Menteng 03. Rumah sakit, mall, bahkan peninggalan budaya dan museum pun tak kalah bagus dari Jakarta. Pun dengan transportasinya. Memang Jogja belum punya MRT sih, tapi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, siapa tau?

Tapi Jogja tidak hingar bingar. Tidak mengejar. Selama hampir setengah tahun ini saya kembali hidup di Jogja, entah kenapa semakin hari saya tambah semakin nrimo dan tidak macam-macam. Saya kan mau kota yang hidup dan menuntut supaya hidup bisa terus tambah maju. Iya, kan?

Pada akhirnya, dimanapun nanti saya hidup, perasaan saya pada Jogja tetap tidak berubah. Perasaan yang sama tiap kali saya berkendara melewati Tugu Pal Putih ke arah stasiun Yogyakarta lalu membelok sampai ke Malioboro: Jogja, kamu cantik sekali.

0 comments